Rilismedia.co – Pemerintah tengah mengkaji penerapan kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) selama satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) maupun pekerja swasta. Hari yang dipertimbangkan untuk pelaksanaan kebijakan tersebut adalah Jumat.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut pemilihan Jumat dinilai strategis karena berdekatan dengan akhir pekan, sehingga memberikan waktu lebih panjang bagi masyarakat untuk beraktivitas dari rumah.
“Jumat kan ditambah Sabtu-Minggu jadi tiga hari itu lumayan tuh untuk aktivitas di rumah,” ujarnya di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta (22/3/2026).
Selain bertujuan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi ke tempat kerja, kebijakan ini juga diharapkan dapat memberi dampak positif terhadap sektor pariwisata domestik.
“Dan mungkin turisme juga akan terdorong sedikit,” katanya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa tidak semua sektor pekerjaan dapat menerapkan sistem WFH. Pemerintah masih mengkaji jenis pekerjaan yang tetap harus dilakukan secara langsung (luring) agar produktivitas tetap terjaga.
“WFH bagaimana itu kadang-kadang ada hal-hal yang nggak bisa dikerjakan dengan baik kalau disuruh WFH. Karena kalau kita lihat WFH pasti kabur tuh,” ujar Purbaya.
Ia juga mengungkapkan bahwa apabila kebijakan WFH satu hari dalam sepekan ini berjalan efektif setelah masa libur Lebaran, maka konsumsi bahan bakar minyak (BBM) nasional berpotensi ditekan secara signifikan. Berdasarkan estimasi awal, penghematan energi bisa mencapai sekitar 20 persen.
“Ada hitungan kasar sekali, bukan saya yang hitung. Kalau kasar lah seharian, lupa saya, tapi seperlimanya, 20 persen kira-kira,” kata dia.
Sebagai informasi, kebijakan WFH ini menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan minyak global akibat meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.






