Rilismedia.co – Pemerintah terus menyusun langkah strategis untuk menekan konsumsi energi di tengah lonjakan harga global, terutama minyak, yang dipicu konflik di Timur Tengah, termasuk perang di Iran.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengimbau masyarakat agar menggunakan energi secara bijak demi menjaga ketahanan nasional.
Salah satu kebijakan yang segera diterapkan adalah skema kerja dari rumah atau work from home (WFH). Kebijakan ini telah diputuskan dan akan diumumkan dalam waktu dekat sebagai upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
Pemerintah menargetkan kebijakan ini mampu menekan konsumsi BBM hingga 20%, meski dampaknya terhadap perekonomian masih terus dikaji.
Wacana WFH sendiri telah disampaikan Bahlil sejak pertengahan Maret, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap potensi krisis energi global akibat konflik geopolitik yang dapat memengaruhi pasokan minyak.
Selain kebijakan tersebut, Bahlil juga mengajak masyarakat untuk melakukan langkah sederhana dalam menghemat energi, seperti menggunakan LPG secara efisien.
“Sekalipun kita sudah dalam kondisi yang baik, saya memohon dukungan dari semua rakyat Indonesia. Masalah ini tidak hanya masalah pemerintah tapi masalah kita semua. Saya memohon, menyarankan agar ayo kita harus memakai energi dengan bijak, yang tidak perlu saya sarankan jangan. Contoh katakanlah kalau masak pakai LPG, kalau masakannya sudah masak jangan kompornya boros,” pinta Bahlil.
Ia menegaskan bahwa meskipun pasokan gas nasional masih dalam kondisi baik, partisipasi masyarakat tetap diperlukan untuk menjaga ketersediaannya.
“Kita harus betul-betul meminta bantuan rakyat untuk kita bersama-sama dalam memakai energi yang bijaksana,” jelasnya.
Bahlil juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan atau panic buying, apalagi hingga diperjualbelikan kembali.
Ia menekankan bahwa SPBU diperuntukkan bagi kebutuhan masyarakat, bukan untuk kepentingan industri atau praktik penimbunan.
“Jangan sampai masih ada yang ngantre di SPBU-SPBU, mobil-mobil truk, padahal isinya bukan untuk ngangkut, tetapi itu abis itu diantri, abis itu dijual lagi. Ya ini saya pantau terus di lapangan,” katanya.
“Saya ingin menyampaikan, tolong kita memakai energi dengan bijak. SPBU ini bukan untuk industri, jadi tolong dipakai dengan bijaksana,” ujar Bahlil.
Ia juga meminta masyarakat tidak panik dan membeli BBM sesuai kebutuhan harian.
“Kalau satu hari cukup 30 liter atau 40 liter, ya cukup. Tidak usah ada rasa panik. Pakailah secukupnya,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah memastikan kondisi pasokan energi nasional masih aman. Bahlil menyebut Indonesia tidak lagi mengimpor solar, sementara sekitar 50% kebutuhan bensin dan 70% LPG masih bergantung pada impor. Meski demikian, pasokan dalam jangka pendek tetap terjaga.
“Tapi saya yakinkan kepada bapak ibu semua, insyaallah kita juga dalam kondisi yang sampai dengan beberapa hari, itu insyaallah dalam kondisi yang baik,” ujarnya.
Pemerintah juga tengah mencari alternatif sumber impor minyak mentah untuk mengantisipasi gangguan pasokan global, sekaligus mengoptimalkan produksi dalam negeri.
Selain itu, Bahlil bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terus merumuskan strategi terkait subsidi BBM agar tidak membebani masyarakat, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadi untuk subsidi, jadi saya dengan Menteri Keuangan (Purbaya) sekarang terus menerus untuk mencari solusi yang terbaik sekalipun krisis, tetap-tetap rakyat kita perhatikan tentang keadaannya,” katanya.
“Doa Bapak Presiden untuk mencari akal bagaimana agar kita jangan memberatkan rakyat,” ucap dia.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi tantangan energi global. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga ketahanan energi nasional ke depan.
“Karena ini kita harus betul-betul meminta bantuan rakyat untuk kita bersama-sama dalam memakai energi yang bijaksana. Kalau ini mampu kita lakukan bersama-sama, insyaallah energi kita ke depan akan semakin baik,” ungkapnya.






