SAMARINDA, rilismedia.co — Kondisi lingkungan di Kalimantan Timur yang kian mengkhawatirkan mendorong sejumlah organisasi mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) turun ke ruang publik.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Kehutanan Unmul, Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Sylva Mulawarman, dan BEM FMIPA Unmul menggelar aksi bertajuk “Kaltim Darurat Bencana”, di Area Teras Samarinda, Kamis (24/09).
Aksi tersebut dikemas melalui mimbar bebas dan pembagian masker kepada masyarakat. Kegiatan itu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan keresahan terhadap persoalan lingkungan sekaligus mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran terhadap dampak kondisi udara dan ancaman bencana ekologis.
“Hari ini, HMI Komisariat Kehutanan Unmul, LEM Sylva Mulawarman dan BEM FMIPA Unmul melangkah dalam satu barisan. Berbeda ruang, tetapi satu keresahan, berbeda latar tetapi satu tujuan yaitu menjaga manusia, menjaga lingkungan, dan menyuarakan kebenaran,” kata Rian, Ketua HMI Komisariat Fahutan Unmul.
Dalam mimbar bebas, mahasiswa tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga mendorong masyarakat memahami persoalan lingkungan secara lebih kritis. Mereka menilai kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada wacana, melainkan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
Pembagian masker menjadi salah satu bentuk kepedulian sederhana yang dilakukan dalam kegiatan tersebut. Langkah itu sekaligus menjadi simbol bahwa persoalan lingkungan memiliki dampak langsung terhadap kehidupan dan kesehatan masyarakat.
“Lewat mimbar bebas, suara-suara disatukan untuk mencerdaskan, bukan sekadar berteriak, tetapi menyampaikan keresahan dengan kesadaran. Lewat pembagian masker, kepedulian diwujudkan dalam tindakan sederhana, sebab kemanusiaan selalu dimulai dari keberanian untuk peduli,” demikian Rian.
Tiga organisasi mahasiswa tersebut membawa latar belakang yang berbeda. Namun, mereka dipertemukan oleh keresahan yang sama terhadap kondisi lingkungan di Kalimantan Timur.
“Kaltim Darurat Bencana” menjadi pesan bahwa persoalan ekologis tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan sektoral. Kerusakan lingkungan, kualitas udara, dan ancaman bencana pada akhirnya bersinggungan langsung dengan keselamatan masyarakat.
Para mahasiswa menegaskan, ketika kondisi alam mulai menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan, sikap diam bukan pilihan. Suara mahasiswa diharapkan menjadi bagian dari upaya pencerdasan publik sekaligus mendorong lahirnya gerakan bersama untuk menjaga lingkungan.
Bagi mereka, menjaga lingkungan bukan sekadar persoalan aktivisme, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama untuk menjaga manusia dan keberlangsungan kehidupan di Kalimantan Timur.






