Iran Klaim Siluman Tempur F-35 AS Berhasil Dilumpuhkan

Rilismedia.co – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim berhasil menembak jatuh jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Amerika Serikat.

IRGC bahkan merilis cuplikan video pendek yang disebut sebagai bukti serangan tersebut. Sejumlah sumber yang dikutip media internasional menyebut satu pesawat dilaporkan melakukan pendaratan darurat di pangkalan militer AS di kawasan tersebut. United States Central Command mengonfirmasi adanya pendaratan darurat, namun tidak menjelaskan penyebabnya.

Bacaan Lainnya

Di tengah eskalasi ini, konflik juga meluas ke Lebanon selatan. Serangan udara Israel dilaporkan melukai jurnalis, termasuk koresponden RT Steve Sweeney dan juru kameranya Ali Rida. Keduanya mengaku menjadi sasaran meski mengenakan identitas pers yang jelas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, mengecam insiden tersebut.

“Rudal itu tidak mengenai ‘fasilitas militer strategis yang signifikan’, melainkan lokasi tempat laporan itu direkam,” katanya, seraya menambahkan bahwa Moskow menunggu respons organisasi internasional.

Situasi ini terjadi bersamaan dengan operasi darat terbatas Israel terhadap Hizbullah di Lebanon selatan—kelompok yang selama ini mendapat dukungan dari Iran.

Dampak konflik langsung terasa di sektor energi global. Harga gas Eropa melonjak tajam hingga mendekati level krisis energi 2022, sementara harga minyak dunia terus merangkak naik. Minyak mentah Brent Crude dilaporkan telah menembus US$112 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$100.

Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan, termasuk efek dari serangan terhadap fasilitas energi di Qatar serta potensi gangguan di Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak dunia.

Di sisi diplomatik, Prancis mendesak moratorium serangan terhadap infrastruktur energi. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik seruan tersebut sebagai terlambat dan tidak seimbang.

Dengan eskalasi militer, serangan lintas negara, dan dampak langsung ke pasar energi, konflik ini kini berkembang dari ketegangan regional menjadi krisis yang berpotensi mengguncang stabilitas global.

Pos terkait