SAMARINDA, rilismedia.co – Deklarasi nasional Dewi Pertiwi tidak hanya melahirkan kepengurusan di tingkat pusat. Di Samarinda, gerakan perempuan yang menjadi mitra strategis Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu kini dipimpin Fransisca Debi Oktavia, seorang psikolog yang ingin membawa isu perlindungan perempuan, anak dan kesehatan mental lebih dekat ke masyarakat.
Fransisca dipercaya sebagai Ketua Dewi Pertiwi DPD PSI Samarinda setelah organisasi tersebut resmi dideklarasikan dan diluncurkan di The Ballroom at Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Bagi Fransisca, momentum deklarasi bukan sekadar pembentukan organisasi. Pekerjaan yang lebih penting justru dimulai setelah seremoni berakhir: memastikan keberadaan Dewi Pertiwi memiliki relevansi dengan persoalan perempuan yang dihadapi warga Samarinda.
“Bagi kami, Dewi Pertiwi bukan sekadar organisasi perempuan yang berkumpul dan membuat kegiatan seremonial. Ada tiga semangat yang menjadi dasar gerakannya, yaitu bergerak, berdaya, dan berdampak,” kata Fransisca.
Ia mengatakan, langkah awal Dewi Pertiwi Samarinda adalah melakukan konsolidasi sekaligus turun ke lapangan untuk memetakan kebutuhan perempuan.
Program yang nantinya dijalankan, menurut dia, tidak boleh dibuat hanya berdasarkan asumsi organisasi. Persoalan yang ditemukan di lapangan akan menjadi dasar untuk menentukan bentuk kegiatan maupun kolaborasi.
“Kami ingin mulai dari persoalan yang nyata, bukan membuat program hanya karena terlihat bagus di atas kertas,” ujarnya.
Penunjukan Fransisca menjadi menarik karena isu yang dibawa Dewi Pertiwi Samarinda bersinggungan erat dengan latar belakang profesionalnya sebagai psikolog.
Sebelumnya, Fransisca juga terlibat dalam kegiatan yang membahas kesehatan mental perempuan di Samarinda. Dalam sebuah diskusi yang digelar DPD PSI Samarinda pada Mei 2026, ia menjadi narasumber dalam agenda bertajuk Perempuan Bekerja, Perempuan Bertahan yang mempertemukan komunitas pemberdayaan perempuan dan pelaku UMKM.
Pengalaman tersebut menurut Fransisca membuatnya melihat bahwa persoalan kesehatan mental perempuan sering kali tidak berdiri sendiri.
Di baliknya bisa terdapat persoalan relasi, kekerasan, tekanan sosial, ketergantungan ekonomi, pola asuh maupun minimnya akses terhadap informasi dan dukungan.
“Saya melihat Dewi Pertiwi sebagai sebuah ruang untuk menghubungkan pengalaman profesional saya dengan kerja sosial di masyarakat,” katanya.
Karena itu, ia ingin Dewi Pertiwi Samarinda tidak berhenti pada kegiatan organisasi, tetapi menjadi ruang bagi perempuan untuk mendapatkan informasi, dukungan, kesempatan belajar, jejaring hingga keberanian mengambil peran.
Salah satu persoalan yang akan menjadi perhatian Fransisca adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Menurut dia, persoalan tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penanganan setelah kasus terjadi, tetapi juga pencegahan.
Edukasi mengenai kekerasan seksual, KDRT, pelecehan, bullying, kesehatan mental, relasi yang sehat, batasan tubuh, persetujuan atau consent, hingga keberanian mencari pertolongan dinilai penting untuk diperkuat.
“Kalau saya melihat dari perspektif saya sebagai psikolog sekaligus sebagai perempuan, salah satu persoalan yang paling membutuhkan perhatian adalah kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga,” ujarnya.
Fransisca menilai satu kasus kekerasan sering kali menyimpan persoalan yang lebih kompleks. Ada korban yang takut berbicara, bergantung secara ekonomi kepada pelaku, merasa malu, tidak mengetahui tempat meminta bantuan, bahkan tidak menyadari bahwa pengalaman yang dialaminya merupakan bentuk kekerasan.
Karena itu, Dewi Pertiwi Samarinda akan mencoba mengambil bagian melalui edukasi, literasi dan penguatan akses informasi.
“Perempuan yang berdaya bukan berarti perempuan yang harus selalu kuat sendirian. Perempuan yang berdaya adalah perempuan yang tahu haknya, tahu batasnya, tahu pilihan yang dimilikinya, dan tahu ke mana harus meminta bantuan ketika membutuhkan,” kata Fransisca.
Selain perlindungan perempuan dan anak, Dewi Pertiwi Samarinda juga akan mengadaptasi program prioritas dari tingkat nasional, salah satunya Gerakan Perempuan Berdokumen.
Program tersebut diarahkan pada penguatan akses perempuan terhadap dokumen dan layanan dasar. Di tingkat daerah, Fransisca mengatakan pelaksanaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat Samarinda.
Program lain yang disiapkan mencakup pemberdayaan dan peningkatan kapasitas perempuan, edukasi, kesehatan mental serta ruang yang mendorong perempuan lebih aktif mengambil peran di masyarakat.
Fransisca menegaskan, ukuran keberhasilan tidak akan hanya dilihat dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan.
“Kami ingin membangun program yang bisa diukur hasilnya. Jadi bukan sekadar berapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi berapa banyak perempuan yang setelah mengikuti kegiatan tersebut benar-benar menjadi lebih tahu, lebih berdaya, dan mendapatkan akses yang sebelumnya tidak mereka miliki,” tuturnya.
Dewi Pertiwi secara terbuka merupakan organisasi perempuan yang menjadi mitra strategis PSI. Dalam deklarasi nasional 1 Oktober 2026, Ketua Umum Dewi Pertiwi Fenty Noverita menekankan tiga prinsip gerakan organisasi, yakni bergerak, berdaya dan berdampak.
Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep juga hadir dalam deklarasi tersebut dan menyampaikan harapan agar semakin banyak perempuan tampil dalam kepemimpinan di berbagai bidang.
Namun di tingkat Samarinda, Fransisca mengatakan Dewi Pertiwi tidak ingin membatasi ruang partisipasi hanya kepada kader atau perempuan yang memiliki latar belakang partai.
Profesional, pelaku UMKM, akademisi, ibu rumah tangga, mahasiswa, aktivis komunitas dan perempuan dari berbagai profesi, menurut dia, dapat mengambil bagian dalam gerakan tersebut.
“Persoalan perempuan tidak bisa diselesaikan oleh satu kelompok saja,” katanya.
Pandangan itu sekaligus menjadi tantangan bagi kepengurusan Dewi Pertiwi Samarinda. Sebab, organisasi perlu membuktikan bahwa program yang dibawa mampu menjangkau persoalan konkret masyarakat, sekaligus membangun kolaborasi dengan pihak di luar struktur politiknya.
Fransisca mengatakan pihaknya terbuka bekerja bersama pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dunia usaha, profesional, media dan organisasi masyarakat.
Ia tidak ingin keberadaan Dewi Pertiwi di Samarinda hanya dikenal karena struktur organisasinya.
“Saya ingin ketika ada perempuan yang membutuhkan informasi, membutuhkan dukungan, atau ingin mengembangkan dirinya, mereka tahu bahwa ada ruang yang bisa mereka datangi,” ujarnya.
Bagi Fransisca, keberhasilan organisasi pada akhirnya bukan ditentukan oleh seberapa besar struktur yang dibangun, melainkan oleh perubahan yang dirasakan perempuan.
“Ukuran organisasi bukan seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar dampak yang bisa ditinggalkannya,” pungkas Fransisca.






