Starlink Jadi Alternatif Perluas Internet ke Wilayah Terpencil Kutim

KUTIM, Rilismedia.co — Keterbatasan infrastruktur jaringan telekomunikasi di sejumlah kawasan tidak menjadi penghalang bagi Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) untuk memperluas akses internet. Teknologi berbasis satelit dimanfaatkan sebagai alternatif untuk menjangkau wilayah yang berada jauh dari jaringan fiber optic.

Melalui Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim, layanan Starlink digunakan pada kawasan yang memiliki tantangan geografis dan belum terjangkau jaringan konvensional.

Pelaksana Tugas (Plt.) Infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Diskominfo Staper Kutim, M. Ihsan Hafid, menyebut sejumlah wilayah seperti Kecamatan Sandaran dan Busang menjadi kawasan yang memanfaatkan teknologi tersebut.

“Kalau Starlink itu kita ada di kecamatan yang agak-agak susah jaringan, kayak Sandaran, Busang,” ujar Ihsan, Sabtu (3/10/26).

Menurutnya, pemanfaatan Starlink menjadi bagian dari pola layanan konektivitas yang disesuaikan dengan kondisi wilayah. Sebab, tidak seluruh kawasan di Kutim dapat dijangkau dengan infrastruktur fiber optic.

Untuk wilayah yang sudah memiliki jaringan telekomunikasi lebih memadai, Diskominfo Staper menggunakan fiber optic (FO) dari Telkom. Saat ini, jaringan tersebut telah mencakup 11 kecamatan.

Sementara kawasan yang berada di luar jangkauan FO dilayani melalui kombinasi Starlink dan wireless point-to-point. Pola tersebut diterapkan untuk memperluas akses konektivitas hingga sekitar seratusan desa.

“Untuk sisanya menggunakan layanan Starlink karena memang sangat jauh dari jangkauan infrastruktur fiber optik,” katanya.

Ihsan menjelaskan, penentuan teknologi jaringan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari kondisi geografis, ketersediaan infrastruktur, biaya operasional hingga kebutuhan pemeliharaan.

Fiber optic sendiri memiliki keunggulan dari sisi kestabilan koneksi karena tidak terpengaruh kondisi cuaca. Namun, penggunaan jaringan tersebut membutuhkan biaya lebih besar.

“Memang biayanya itu lebih besar juga menggunakan FO, tapi itu lebih stabil karena tidak terganggu dengan kondisi cuaca,” ungkapnya.

Dengan pemanfaatan beberapa teknologi tersebut, Diskominfo Staper Kutim menyesuaikan dukungan konektivitas berdasarkan karakteristik wilayah. Starlink menjadi salah satu pilihan untuk memastikan kawasan yang jauh dari infrastruktur fiber optic tetap memperoleh akses jaringan internet. (Dit/adv/Kutim)

Pos terkait