TENGGARONG, Rilismedia.co – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) telah mengalokasikan porsi belanja di sektor pendidikan di angka 21 persen dari total anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) di tahun 2026. Tak hanya itu, Pemkab Kukar bahkan memastikan bahwa tunjangan profesi pendidik (TPP) tidak dipangkas.
Kebijakan sekaligus keberpihakan pemerintah terhadap kesejahteraan para guru itu diungkapkan Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat menyampaikan sambutan pada acara Pembukaan Festival Lokal Gemini Academy Impact Awards 2026 di Gedung Putri Karang Melenu (PKM),Tenggarong Seberang, Selasa (27/10).
Aulia menilai peran para guru sangat vital bagi pembentukan sumber daya manusia (SDM) Kukar. Guru diibaratkan sebagai pintu untuk membuka kesuksesan bagi peserta didik. Atas dedikasi dan kontribusi dari para guru bagi masa depan generasi muda, maka pemerintah Kukar berkomitmen untuk memprioritaskan kesejahteraan guru.
Konkritisasi komitmen ini ditandai dengan tidak adanya pemangkasan tunjangan profesi pendidik (TPP). Tak tanggung-tanggung, pemerintah bahkan sudah menyiapkan anggaran sebesar 21% di sektor pendidikan.
“Oleh karenanya, sekali lagi kami sampaikan melalui komitmen kita, anggaran pendidikan di Kukar, peraturan pemerintah minimal 20%, di Kutai Kartanegara kita sudah menyiapkan 21% anggaran di sektor pendidikan dari APBD yang ada di Kukar,” katanya.
Aulia juga memberikan cara berpikir berpikir baru yang lebih komprehensif dalam mendefinisikan Festival Lokal Berdampak Academi 2026 bila disandingkan dengan festival AI yang dilaksanakan. Menurutnya, pada pagelaran festival AI substansi utama penekanannya terletak pada karya yang dihasilkan. Sedangkan, Festival Gemini Academi terletak pada dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas AI itu sendiri.
“Gemini Award menurut pemahaman kami bukan sekadar festival AI biasa. Karena ketika kita berbicara terkait perlombaan-perlombaan yang berkaitan dengan AI semuanya selalu menitikberatkan pada karya. Akan tetapi, ketika kita berbicara tentang Gemini Award titik beratnya pada dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas AI itu sendiri. Ink yang menjadi pembeda antara Gemini Award dan festival AI lainnya,” paparnya.
Selain itu, sambung Aulia, terdapat perbedaan paradigma antara era industri 4.0 dan era industri 5.0. Era industri 4.0 di sektor pendidikan dan sosial kemasyarakatan, kata dia, titik sentrumnya teknologi dijadikan sebagai leader dari rangkaian proses yang terjadi. Sebaliknya, di era industri 5.0 yang hari ini terjadi, penekanannya terletak pada aspek kemanusiaan (humanity), dan sosial kemasyarakatan (society). Dua aspek penting tersebut selaras dengan pesan utama yang termaktub dalam Gemini Award bahwa AI dipersilahkan untuk digunakan namun hanya sebatas alat dan bukan subjek yang menentukan tujuan hidup seseorang.
“Dan ini seiring sejalan dengan spirit yang disampaikan oleh Gemini Award bahwa AI boleh, akan tetapi dia hanya sebatas alat, bukan dialah yang menentukan tujuan kita,” katanya.
Dengan demikian, subyek utama dalam pemanfaatan sekaligus leader yang berperan penting dalam proses pendidikan adalah guru.
“Tetap bapak Ibu gurulah yang menjadi leaders. Yang membuat alat ini memiliki nyawa, yang membuat alat ini memiliki arah, dan tentunya membuat alat ini memiliki rasa,” katanya.
Bagi Aulia relasi antara guru dan murid tak sebatas relasi belajar dan mengajar saja, tetapi mencakup aspek psikologis sekaligus memberikan secercah harapan kepada peserta didik untuk merengkuh masa depan yang lebih baik.
“Hubungan antara murid dan guru itu tidak sekadar hubungan belajar mengajar. Akan tetapi, ada hubungan emosional, hubungan antara orang tua dan anak, hubungan yang memberikan harapan bahwa si anak itu insyaallah akan memperoleh dan mendapatkan masa depan yang lebih baik di hari esok,” katanya.
Aulia berharap para guru dan tenaga kependidikan selalu memberikan motivasi dan menanamkan secercah harapan kepada peserta didik untuk berupaya menggapai cita-cita mereka.
“Yakinkan mereka bahwa mereka bisa menggapai semua cita-cita yang dimiliki. Jangan halangi mereka untuk menjadi orang besar. Jangan kita patahkan semangat mereka, karena hari ini dengan program-program yang ada di Pemerintah Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara, semua anak Kukar itu berhak untuk bercita-cita setinggi-tingginya,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah dalam sambutannya mengatakan, kita hidup di era industri 4.0. Era Industri 4.0 adalah tahap perkembangan industri abad ke-21 yang menggabungkan teknologi digital, fisik, dan biologis ke dalam proses produksi serta model bisnis. Salah satu komponen inti dari era industri 4.0 yakni Artificial Intelligence (AI).
Ia menilai AI bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan telah masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan sehari-hari, pekerjaan, ruang kelas hingga menjadi bagian dari aktivitas belajar peserta didik. Perubahan ini menuntut dunia pendidikan untuk terus beradaptasi mengikuti semangat zaman.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi akan mengubah pendidikan, melainkan seberapa siap kita memanfaatkan teknologi untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, kreatif, dan bermakna,” ucap Heriansyah dalam pertanyaan reflektifnya.
Titik tolak pertanyaannya ini kemudian memantik pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar untuk terus berbenah dan sejak dini mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kecakapan digital, kreativitas, berpikir kritis, dan berdaya saing yang tinggi. Tak berhenti sampai di situ, pemerintah bahkan mengingatkan agar peserta didik tak sebatas sebagai pengguna teknologi, melainkan didorong untuk menghasilkan karya dan menjadi bagian dalam pembangunan masa depan bangsa terutama di Kukar.
“Kita ingin anak-anak kita di Kukar tidak hanya sekadar menjadi pengguna teknologi, melainkan generasi yang menciptakan karya, mengambil peran dalam pembangunan masa depan,” paparnya.
Bagi Heriansyah, Festival Lokal Berdampak Gemini Academy 2026 ini memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pengenalan teknologi. Festival ini merupakan ruang untuk belajar bersama, berbagi pengalaman, membangun kolaborasi, sekaligus menunjukkan potensi guru dalam menghadirkan inovasi pembelajaran melalui AI.
Heriansyah menekankan 4 poin penting dalam pemanfaatan AI. Pertama, AI dijadikan sebagai mitra pembelajaran dan bukan pengganti guru. AI dapat membantu menyusun modul ajar, mengembangkan asesmen, merancang pembelajaran, hingga menyederhanakan administrasi. Namun demikian, AI tidak dapat menggantikan guru dalam membimbing, memahami karakter anak, menanamkan nilai-nilai moral, dan memberikan keteladanan.
“Teknologi membantu anak-anak untuk menjadi lebih pintar, tetapi guru yang membimbing anak-anak menjadi manusia berkarakter,” tegasnya.
Kedua, kata dia, membangun budaya belajar dan berbagi praktik baik. Transformasi pendidikan bukan hanya membiarkan perangkat tetapi juga mempersiapkan guru untuk mampu menggunakan AI.
“Saya berharap keterampilan yang diperoleh melalui kegiatan ini dapat dibagikan kepada seluruh rekan guru melalui komunitas KKG, MGMP, dan forum pengembangan kompetensi lainnya. Satu guru yang berinovasi adalah langkah maju,” sebutnya.
Ketiga, menggunakan AI secara bijaksana, etis, dan bertanggung jawab. Kemudahan AI jangan sampai membuat membuat siswa kehilangan kemampuan berpikir mandiri, terbiasa menyalin jawaban atau melakukan plagiarisme, serta tetap memperhatikan perlindungan data pribadi dan kemampuan memeriksa kebenaran informasi.
“Kita tidak ingin menghasilkan generasi yang cerdas memanfaatkan teknologi tetapi juga memiliki integritas dalam menggunakannya,” paparnya.
Keempat, mendorong inovasi digital yang tetap berakar pada kearifan lokal. Bagi Hariansyah, Kukar memiliki kekayaan sejarah, budaya dan tradisi yang berharga.
“Oleh karena itu, teknologi AI dapat dikembangkan sebagai media belajar tentang sejarah Kerajaan Kutai, pengenalan bahasa Kutai, cerita rakyat, dan kearifan lokal agar generasi kita mampu bersaing secara global namun tetap memiliki akar budaya serta jati diri lokal yang kuat,” pungkasnya.






