Mahulu Tertekan Kekeringan, Gerindra Kaltim Kirim 1.500 Paket Bantuan

SAMARINDA — Kekeringan di Mahakam Ulu mulai menguji jalur pasokan pangan ke wilayah hulu Sungai Mahakam. Saat debit sungai menyusut dan biaya angkutan melonjak, Partai Gerindra Kalimantan Timur mengirim 1.500 paket bahan pokok untuk warga Long Pahangai dan Long Apari.

Bantuan tersebut dilepas Ketua DPD Gerindra Kaltim Seno Aji dari Kantor DPD Gerindra Kaltim, Jumat, 28 Agustus 2026. Paket yang dikirim berisi beras, gula dan minyak goreng.

Bacaan Lainnya

Dana pengadaan berasal dari donasi kader Gerindra di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, termasuk anggota DPRD dan jajaran pengurus. Total dana yang terkumpul sekitar Rp153,2 juta, terdiri atas Rp113,2 juta dari kader dan sekitar Rp40 juta dari pihak ketiga.

“Ini bentuk kepedulian kami. Mudah-mudahan bantuan ini bisa meringankan beban masyarakat Mahakam Ulu yang sedang menghadapi kesulitan pangan,” kata Seno.

Namun persoalan Mahulu bukan sekadar soal ada atau tidaknya bahan pangan. Barang masih harus menempuh jalur distribusi yang semakin sulit akibat Sungai Mahakam surut.

Pemerintah Kabupaten Mahulu sebelumnya menetapkan status siaga darurat kekeringan sejak 19 Agustus. Kondisi tersebut terutama berdampak pada Long Apari dan Long Pahangai yang masih sangat bergantung pada jalur sungai untuk distribusi.

Pemprov Kaltim bahkan telah lebih dulu mengirim bantuan cadangan pangan. Pada pertengahan Agustus, pemerintah menyiapkan 62,14 ton beras untuk 3.107 kepala keluarga di Long Apari dan Long Pahangai. Masing-masing keluarga dihitung mendapat alokasi 20 kilogram.

Bantuan itu kemudian mulai masuk ke Mahulu. Pemkab Mahulu mencatat sebanyak 9,7 ton bantuan pangan, bahan pokok, LPG dan BBM telah tiba pada 19 Agustus untuk selanjutnya disalurkan ke wilayah hulu.

Meski bantuan berdatangan, jalur menuju masyarakat tetap menjadi persoalan.

Seno mengatakan pengiriman bantuan Gerindra harus dilakukan secara bertahap. Dari Samarinda, logistik dibawa menggunakan truk hingga titik yang memungkinkan. Setelah itu barang dipindahkan ke kendaraan roda empat atau pikap sebelum kembali dipindahkan ke perahu ketinting.

Kapasitas perahu yang terbatas membuat pengiriman harus dipecah. Satu ketinting disebut hanya mampu membawa sekitar 500 kilogram barang.

“Jadi tidak bisa sekaligus. Bantuan harus dibagi dalam beberapa kali pengiriman,” ujarnya.

Sungai Surut, Ongkos Angkut Melonjak

Gangguan distribusi telah berdampak langsung pada harga kebutuhan pokok. Pemkab Mahulu sebelumnya menyebut ongkos angkutan menuju wilayah hulu dapat mencapai jutaan rupiah sekali perjalanan.

Untuk rute Long Lunuk–Tiong Ohang, misalnya, biaya angkutan mencapai sekitar Rp2,75 juta ditambah BBM. Sementara perjalanan menuju Long Apari atau Noha Tivab dapat mencapai Rp5,55 juta, belum termasuk 65 liter BBM.

Kondisi itu menjelaskan mengapa bantuan pangan saja tidak cukup menjadi solusi jangka panjang.

Seno mengatakan Pemprov Kaltim akan mendorong pembukaan akses darat dari Ujoh Bilang menuju Long Apari. Pemerintah provinsi juga telah mengerahkan alat berat untuk membuka akses dari Long Bagun menuju Long Pahangai.

Menurut dia, pembangunan akses darat diperlukan agar persoalan distribusi tidak terus berulang setiap kali Sungai Mahakam mengalami penyusutan debit.

“Ke depan kami akan menganggarkan bersama-sama dengan Pak Gubernur untuk membuka jalur transportasi dari Ujoh Bilang sampai Long Apari,” katanya.

Pemprov Kaltim sebelumnya juga menyatakan akses darat menjadi solusi jangka panjang karena ongkos angkutan sungai jauh lebih mahal dibandingkan jalur darat.

Dengan kondisi tersebut, bantuan 1.500 paket yang dikirim Gerindra menjadi bagian dari respons jangka pendek. Pemerintah tetap harus menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar: bagaimana bahan pangan dapat sampai ke pedalaman dengan biaya yang tidak membuat harga barang semakin mahal.

Seno menyebut sekitar 2.000 kepala keluarga di Long Apari dan Long Pahangai membutuhkan perhatian akibat kekeringan dan terganggunya pasokan.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi kering di Kaltim meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.

Peringatan tersebut sejalan dengan surat edaran Gubernur Kaltim tentang kesiapsiagaan kekeringan dan karhutla. Pemprov mencatat hingga 10 Agustus 2026 terdapat 196 kejadian karhutla dengan luas terdampak 388,8 hektare.

Di tengah kondisi itu, Seno berharap kekeringan segera berakhir sehingga Sungai Mahakam kembali memiliki debit yang cukup untuk mendukung mobilitas warga dan distribusi kebutuhan pokok.

Sebab persoalan Mahulu hari ini bukan hanya tentang kekeringan. Ketika sungai surut, jalan distribusi ikut menyempit dan pada akhirnya harga kebutuhan pokoklah yang harus dibayar lebih mahal oleh masyarakat di ujung jalur.

Pos terkait