KUTIM, Rilismedia.co — Ancaman kemarau panjang seperti “alarm alam” yang kembali mengingatkan masyarakat Kutai Timur untuk meningkatkan kewaspadaan. Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi menilai kemungkinan musim kering berlangsung lebih lama tetap perlu diantisipasi, meski hujan gerimis sempat turun di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah Kabupaten Kutim pun memilih menempuh ikhtiar lahir dan batin dengan menggelar Salat Istisqa secara berjemaah.
Mahyunadi menyampaikan kewaspadaan tersebut menjelang pelaksanaan Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kutim pada Rabu (9/9/2026).
Menurut dia, catatan pola musim pada periode sebelumnya menunjukkan Kutai Timur pernah menghadapi kondisi kemarau panjang. Karena itu, pemerintah dan masyarakat diminta tidak buru-buru menyimpulkan bahwa turunnya hujan ringan menjadi pertanda musim kering telah berakhir. Gerimis yang terjadi masih memungkinkan menjadi bagian dari proses peralihan musim.
“Kalau kita melihat siklusnya, berarti antara 14 sampai 15 tahun. Tahun 2007, kemarau panjang kita tidak melakukan istisqa sehingga kemaraunya tambah panjang. Tahun 2015 pemerintah juga tidak menginisiasi secara berjemaah, sehingga kemaraunya semakin panjang,” ujar Mahyunadi sebelum pelaksanaan Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kutim.
Pengalaman menghadapi musim kering pada tahun-tahun sebelumnya menjadi salah satu pertimbangan Pemkab Kutim menginisiasi Salat Istisqa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari doa bersama pemerintah dan masyarakat dengan harapan hujan segera turun sehingga dampak musim kemarau tidak berkembang semakin luas maupun berlangsung berkepanjangan.
Selain memohon turunnya hujan, pelaksanaan Salat Istisqa juga dimaknai sebagai momentum introspeksi bersama. Pemerintah mengajak masyarakat merendahkan diri di hadapan Allah SWT sekaligus menyadari bahwa berbagai upaya manusia memiliki keterbatasan.
Kemampuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, pembangunan, maupun tata kelola pemerintahan dinilai tetap perlu disertai kesadaran spiritual.
Mahyunadi menuturkan, manusia dapat melakukan berbagai langkah untuk menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk membangun infrastruktur dan menjalankan program pemerintahan. Namun, menurutnya, kemampuan tersebut tidak dapat menjangkau seluruh persoalan yang berkaitan dengan kondisi alam. Atas dasar itu, ia mengajak masyarakat memperbanyak istighfar dan memohon ampun kepada Allah SWT.
“Kita beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa pribadi kita, atas kekhilafan kita sebagai masyarakat, dan bagi kami pemerintah agar diberikan amanah dalam pemerintahan,” katanya.
Ajakan tersebut sekaligus menegaskan bahwa menghadapi potensi kemarau panjang tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis. Pemkab Kutim berupaya menggabungkan langkah pemerintahan dengan pendekatan spiritual sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi musim kering. Kebersamaan pemerintah dan masyarakat dinilai penting agar kewaspadaan terhadap dampak kemarau dapat terus dijaga.
Potensi musim kering yang berkepanjangan juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kondisi tanpa hujan dalam waktu lama berpotensi menurunkan ketersediaan air, mengganggu aktivitas pertanian, serta meningkatkan risiko gangguan lingkungan. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan selama kondisi cuaca belum menunjukkan perubahan yang konsisten.
Turunnya gerimis di sejumlah titik dalam beberapa hari terakhir, menurut Mahyunadi, belum cukup menjadi dasar untuk menyatakan kemarau telah selesai. Pemerintah daerah tetap mencermati perkembangan kondisi musim sembari melanjutkan berbagai langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.
Pemkab Kutim juga membuka kemungkinan kembali menggelar Salat Istisqa apabila hujan belum juga turun dalam intensitas yang mencukupi. Pelaksanaan kembali doa bersama tersebut akan menjadi bagian dari ikhtiar pemerintah bersama masyarakat untuk menghadapi musim kering sekaligus memohon kondisi alam yang lebih baik.
Dengan kewaspadaan terhadap potensi kemarau panjang serta penguatan ikhtiar bersama, Pemkab Kutim berharap masyarakat dapat menghadapi musim kering dengan lebih siap. Salat Istisqa menjadi salah satu bentuk harapan bersama agar hujan segera turun dan kondisi kemarau tidak menimbulkan dampak lebih besar bagi masyarakat Kutai Timur. (Dit/ADV/Kutim)






