SAMARINDA, rilismedia.co — Penanganan keluhan warga terkait dampak pembangunan parkiran Mall SCP Samarinda diduga baru mendapat perhatian serius setelah persoalan tersebut mencuat ke publik melalui pemberitaan media.
Sejumlah warga yang tinggal di rumah dinas Subdolog Wilayah I Samarinda sebelumnya mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan atas kerusakan bangunan yang mereka alami. Namun, respons yang diterima dinilai tidak konkret dan cenderung mengalihkan tanggung jawab.
Salah satu warga berinisial WL, yang tinggal di Jalan P. Hidayatullah, mengungkapkan bahwa kondisi rumahnya terus memburuk sejak proyek pembangunan parkiran dimulai. Rumah tersebut berada di antara area proyek dan rumah dinas karyawan Mall SCP yang disebut dalam keadaan kosong.
“Sekarang atap rumah jadi bocor. Kondisinya makin parah sejak ada pembangunan parkiran itu,” ungkap WL sebelumnya.
Selain kebocoran atap, warga juga menyoroti keberadaan pohon beringin yang tumbuh menempel di dinding bangunan rumah dinas karyawan Mall SCP. Pohon tersebut dinilai memperparah kondisi karena akar dan daun keringnya menyumbat saluran air.
Warga menyebut telah mencoba berkoordinasi dengan pihak manajemen, namun hanya diarahkan untuk menghubungi kontraktor proyek.
“Selanjutnya jika ada komplain bisa menghubungi kontraktor kami atas nama Pak Ferial ya,” demikian isi pesan WhatsApp yang diterima warga.
Upaya konfirmasi yang dilakukan media kepada sejumlah pihak terkait, termasuk nama-nama yang disebut dalam komunikasi tersebut, hanya mendapat tanggapan dari seseorang bernama Togle.
Dalam keterangannya, Togle menyampaikan bahwa dirinya bersama perwakilan SCP baru melakukan pertemuan dengan warga dalam beberapa hari terakhir guna membahas penyelesaian masalah.
“Iya saya juga sudah dikirimi Pak WL lusa lalu. Beberapa hari ini dan semalam saya juga sudah ketemu Pak SB,” tulis Togle, Kamis (21/5/2026).
Ia menyebut pihak kontraktor bersedia melakukan perbaikan atas kerusakan yang terjadi, sementara pihak SCP akan menangani persoalan pohon yang dinilai menjadi salah satu penyebab masalah.
“SCP siap menebang pohon yang ada di rumah SCP yang menyebabkan kotor di atap rumah Pak SB, dan kontraktor juga siap perbaiki setiap kerusakan yang disebabkan pekerjaan,” ujarnya.
Namun, saat disinggung terkait lambannya penanganan keluhan warga sebelumnya, Togle mengakui adanya keterlambatan.
“Kemarin memang sempat saya terlambat penanganan, karena saya cuti dan Pak SB serta Pak WL juga saya beritahu, mereka mengerti,” jelasnya.
Pengakuan tersebut memperkuat dugaan warga bahwa respons serius terhadap keluhan baru dilakukan setelah persoalan ini mendapat perhatian media. Sebelumnya, warga mengaku tidak melihat adanya tindakan nyata di lapangan.
Di sisi lain, ketika ditanya terkait aspek perizinan lingkungan proyek, termasuk dokumen AMDAL, Togle tidak memberikan penjelasan dan justru mengarahkan pertanyaan kepada pihak lain.
“Coba bapak hubungi Pak Ferial selaku Site Manager untuk AMDAL dan lain-lain ya,” jawabnya singkat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen Mall SCP Samarinda maupun pihak yang disebut sebagai Site Manager proyek belum memberikan keterangan resmi, baik terkait izin lingkungan maupun klarifikasi atas dugaan lambannya penanganan keluhan warga terdampak.






