Rilismedia.co – Sejumlah negara Eropa secara tegas menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengerahkan pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Israel dengan Iran.
Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa mereka tidak ingin terlibat langsung dalam aksi militer dan memilih mengedepankan jalur diplomasi serta stabilitas kawasan.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa negara-negara anggota tidak memiliki keinginan untuk ikut serta dalam operasi militer terhadap Iran.
Dalam pernyataan usai pertemuan para Menteri Luar Negeri Uni Eropa di Brussels, ia menegaskan bahwa Eropa tidak ingin terjebak dalam konflik berkepanjangan.
Kallas juga menyebut bahwa perang melawan Iran bukanlah bagian dari kepentingan strategis Eropa. Menurutnya, prioritas Uni Eropa adalah menjaga kebebasan navigasi serta memperkuat upaya diplomatik di kawasan.
Ia menambahkan bahwa meski Uni Eropa memiliki misi keamanan maritim seperti Operasi Aspides di Laut Merah, tidak ada rencana untuk memperluas mandat tersebut ke Selat Hormuz.
“Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini,” tegasnya.
Sejumlah negara anggota juga menyampaikan sikap serupa. Italia menegaskan bahwa misi angkatan laut Uni Eropa saat ini hanya difokuskan pada pengawalan kapal dagang dan operasi antipembajakan, serta tidak dirancang untuk beroperasi di Selat Hormuz.
“Kami bersedia memperkuat misi-misi ini. Tetapi saya rasa misi-misi tersebut tidak dapat diperluas hingga mencakup Selat Hormuz,” ucap Menlu Italia Antonio Tajani.
Jerman juga menolak kemungkinan pengiriman pasukan ke kawasan Teluk. Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa negaranya tidak akan terlibat dan menyerukan solusi politik segera untuk meredakan ketegangan.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer turut menolak tekanan untuk bergabung dalam operasi militer di wilayah tersebut, dengan menegaskan bahwa Inggris tidak ingin terseret ke dalam konflik yang lebih luas.
Polandia dan Belgia juga menyatakan tidak akan mengirimkan aset angkatan laut ke kawasan itu, serta menekankan komitmen terhadap diplomasi dan stabilitas regional.
Menlu Polandia Radoslaw Sikorski bahkan mengkritik pendekatan yang memisahkan posisi NATO dan Amerika Serikat dalam konteks permintaan dukungan militer di Teluk. Sementara itu, Menlu Belgia Bart De Wever menegaskan negaranya tidak akan ikut serta dalam aksi militer bersama AS maupun Israel.
Dengan penolakan kolektif ini, negara-negara Eropa menegaskan kembali pendekatan non-intervensi dan prioritas pada penyelesaian diplomatik atas meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.






