TENGGARONG, rilismedia.co – Kebakaran besar yang melanda permukiman warga di Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), membuka persoalan serius terkait kesiapan infrastruktur penanggulangan kebakaran di kawasan padat penduduk.
Selain rapatnya bangunan, akses gang yang sempit membuat kendaraan pemadam kebakaran berukuran besar tidak dapat menjangkau seluruh bagian permukiman secara optimal. Kondisi ini kini menjadi bahan evaluasi Pemerintah Kabupaten Kukar.
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kukar bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) akan mengkaji pembenahan akses sekaligus penambahan titik hidran di kawasan permukiman padat.

Kepala Perkim Kukar Muhammad Aidil mengatakan, sejumlah akses di sekitar lokasi kebakaran hanya berupa gang kecil sehingga menyulitkan kendaraan besar untuk masuk.
“Terkait jalannya, memang ada beberapa jalan yang tidak bisa dilewati kendaraan besar karena hanya gang kecil,” ujar Aidil, Kamis (8/10).
Menurut dia, persoalan tersebut perlu dibicarakan bersama pemerintah kelurahan, kecamatan dan masyarakat. Salah satu opsi yang dapat dikaji ialah pelebaran akses jalan.
Namun, pelebaran jalan tidak bisa dilakukan begitu saja karena sebagian akses berpotensi bersinggungan dengan lahan milik warga.
“Kalau kami membangun atau melebarkan jalan, artinya memang ada sebagian tanah warga yang akan terkena. Jadi kami harus komunikasikan secara baik,” jelasnya.
Persoalan akses itu semakin terlihat dalam penanganan kebakaran yang terjadi Senin (5/10). Api menghanguskan puluhan bangunan di kawasan Jalan Danau Aji dan Jalan AM Alimuddin.
Damkarmat Kukar mengerahkan 90 personel dan sembilan armada untuk melakukan pemadaman. Proses penanganan juga menghadapi kendala sumber air dan kepadatan bangunan.
Pantauan rilismedia, kondisi permukiman yang padat, banyaknya bangunan berbahan kayu serta keterbatasan sumber air membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan ekstra. Petugas bahkan memanfaatkan sumber air alternatif untuk mendukung operasi pemadaman.
Persoalan sumber air inilah yang kemudian menjadi perhatian Bupati Kukar Aulia Rahman Basri.
Saat meninjau lokasi kebakaran pada Kamis (8/10/2026), Aulia mengatakan ketersediaan sumber air harus diperkuat, terutama di kawasan padat penduduk yang sulit dijangkau kendaraan pemadam.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan terdapat sumber air di titik-titik yang sulit dijangkau kendaraan pemadam, baik dalam bentuk sumur, tandon maupun hidran.
Aulia bahkan membuka kemungkinan pemanfaatan dana RT untuk mendukung penyediaan sumber air sesuai kebutuhan masing-masing lingkungan.
“Untuk kawasan padat penduduk di Tenggarong, salah satu penguatannya kita di dana RT tahun depan untuk memastikan ketersediaan air di setiap sudut tempat yang sulit dijangkau,” ujar Aulia.
Ia mengatakan kebutuhan setiap RT berbeda sehingga bentuk fasilitas yang dibangun dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan.
“Jadi kebutuhan masing-masing RT tidak sama, kalau bisa ditangani dengan dana RT maka akan kita optimalkan,” katanya.
Kebijakan tersebut sejalan dengan rencana Perkim Kukar untuk memperluas penyediaan hidran. Fasilitas itu tidak hanya akan ditempatkan di lokasi yang baru saja terbakar, tetapi juga dipertimbangkan untuk kawasan permukiman lain dengan tingkat kepadatan tinggi.
Aidil mengatakan penentuan titik hidran nantinya akan dikoordinasikan bersama Damkarmat agar fasilitas tersebut benar-benar berada di lokasi yang strategis untuk mendukung proses pemadaman.
“Bukan di lokasi kebakaran saja, mungkin nanti kami rencanakan untuk wilayah-wilayah yang memang padat penduduk sehingga untuk mengurangi korban atau luasan dampak seperti yang terjadi saat ini mungkin bisa dicegah secara dini,” katanya.
Kebutuhan memperkuat jaringan hidran juga berkaitan dengan kondisi kawasan Melayu yang memiliki sejumlah titik dengan akses terbatas. Sebelumnya, pemerintah telah memiliki jaringan hidran kering dan tandon air di kawasan tersebut, namun cakupannya belum sepenuhnya menjangkau seluruh permukiman padat.
Kepala Damkarmat Kukar Fida Hurasani sebelumnya menyebut kawasan Danau Aji sebagai salah satu wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi. Kepadatan bangunan dan karakter akses jalan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam mitigasi.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah tidak hanya dituntut mempercepat penanganan setelah kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat infrastruktur pencegahan.
Pelebaran akses jalan, penyediaan hidran, penambahan sumber air dan penataan lingkungan menjadi bagian yang kini masuk dalam evaluasi Pemkab Kukar.
Namun, rencana pelebaran jalan juga akan menghadapi persoalan sosial karena berpotensi menyentuh lahan warga. Pemerintah perlu memastikan proses tersebut dilakukan melalui komunikasi dan kesepakatan dengan masyarakat terdampak.
Sementara itu, Pemkab Kukar masih melakukan pendataan warga yang terdampak kebakaran serta menyalurkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Bupati Kukar bersama sejumlah organisasi perangkat daerah juga telah meninjau langsung lokasi dan berdialog dengan warga.
Kebakaran Melayu pada akhirnya menjadi evaluasi terhadap kesiapan permukiman lama menghadapi bencana. Persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan api ketika kebakaran terjadi, tetapi seberapa siap lingkungan menyediakan akses bagi petugas dan sumber air dalam waktu cepat.
Dengan pembenahan tersebut, pemerintah berharap kejadian serupa tidak kembali berkembang menjadi kebakaran besar hanya karena kendaraan pemadam kesulitan masuk atau sumber air berada terlalu jauh dari titik api.






