TENGGARONG, rilismedia.co – Kebakaran yang melanda kawasan padat penduduk di Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), tidak hanya menyisakan kerugian material. Peristiwa yang menghanguskan puluhan bangunan itu kini mendorong Pemerintah Kabupaten Kukar mengevaluasi sekaligus menata kembali kawasan permukiman yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kukar mulai menyiapkan konsep penataan ulang, terutama pada area yang terdampak langsung kebakaran di sekitar Jalan Danau Aji dan Jalan AM Alimuddin.
Kepala Perkim Kukar Muhammad Aidil mengatakan, langkah pertama yang dilakukan pemerintah ialah memastikan data warga terdampak melalui koordinasi dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan.
“Untuk saat ini kami masih sebatas perencanaan dan pendataan. Terkait kegiatan fisik atau bantuan, nanti akan kami bicarakan lagi dengan tim, termasuk TAPD dan Pak Bupati,” ujar Aidil, Kamis (8/10).
Data awal pemerintah menyebut sekitar 75 warga terdampak. Sementara laporan penanganan kebakaran mencatat sekitar 75 bangunan di kawasan tersebut hangus terbakar.
Kebakaran terjadi pada Senin (5/10) sore. Api dengan cepat merambat di kawasan RT 33 yang memiliki kepadatan bangunan cukup tinggi. Mayoritas bangunan disebut berbahan kayu sehingga kobaran api mudah menjalar dari satu rumah ke rumah lainnya.

Kondisi di lapangan juga memperlihatkan persoalan lain. Sejumlah gang di kawasan permukiman relatif sempit sehingga menyulitkan akses kendaraan pemadam berukuran besar. Saat proses pemadaman berlangsung, petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air. Kepala Disdamkar Kukar Fida Hurasani sebelumnya mengatakan petugas bahkan harus mencari sumber air sekitar 500 meter dari lokasi untuk mengisi kembali tangki pemadam. Angin kencang turut mempercepat rambatan api.
Sebanyak 90 personel dengan sembilan armada dikerahkan dalam penanganan awal. Pemadaman juga dibantu BPBD, PDAM, kepolisian dan relawan. Proses pemadaman hingga pendinginan berlangsung sekitar dua jam, sementara sumber lain mencatat penanganan berlangsung lebih lama hingga api benar-benar terkendali.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah tidak ingin penanganan pascakebakaran berhenti pada pemberian bantuan darurat.
Aidil mengatakan, kawasan tersebut bukan permukiman yang sejak awal dirancang seperti kompleks perumahan dengan pola jalan dan bangunan yang seragam. Rumah warga tumbuh secara bertahap selama puluhan tahun.
“Ini bukan seperti kompleks perumahan yang memang sudah diatur. Ini permukiman warga yang sudah berdiri mungkin puluhan tahun. Ada yang berhadapan, ada yang dempet-dempetan,” jelasnya.
Karena itu, Perkim Kukar akan menyusun perencanaan terlebih dahulu sebelum menentukan bentuk penataan yang dinilai paling memungkinkan.
Pembenahan tersebut tidak hanya menyangkut bangunan rumah, tetapi juga sarana dan prasarana umum (PSU), akses lingkungan hingga fasilitas pendukung penanggulangan kebakaran.
Salah satu opsi yang mulai dibicarakan ialah penambahan hidran pada kawasan permukiman padat. Hidran dinilai penting untuk mempercepat suplai air apabila terjadi kebakaran sehingga petugas tidak kembali menghadapi persoalan kekurangan air seperti dalam kejadian 5 Oktober lalu.
Bahkan, menurut Aidil, pemasangan hidran tidak menutup kemungkinan diterapkan pada kawasan permukiman padat lainnya yang memiliki tingkat kerawanan serupa.
“Insyaallah kami akan melakukan penataan ulang. Kami akan menyelesaikan perencanaannya, kemudian kami paparkan kepada warga dan pihak kelurahan sehingga nanti mendapatkan masukan seperti apa jalan terbaik bagi warga atau korban terdampak kebakaran,” katanya.
Rencana itu akan terlebih dahulu diprioritaskan di kawasan yang terdampak langsung. Setelah konsep awal selesai, pemerintah akan membahas kemungkinan penataan kawasan secara lebih luas.
Langkah tersebut menjadi penting karena kawasan Danau Aji sebelumnya disebut pemerintah telah masuk kategori zona merah rawan kebakaran. Pemerintah juga telah membangun hidran kering sepanjang sekitar satu kilometer dari Sungai Tenggarong serta menempatkan dua tandon air berkapasitas masing-masing 5.000 liter untuk mendukung penanganan kebakaran.
Di sisi lain, penanganan warga terdampak tetap berjalan. BPBD Kukar telah menyalurkan bantuan logistik dan mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar warga selama masa tanggap darurat.
Pada Kamis (8/10/2026), Bupati Kukar juga meninjau langsung lokasi kebakaran dan berdialog dengan warga terdampak. Sejumlah kepala perangkat daerah ikut dalam peninjauan tersebut, termasuk BPBD, Dinas Sosial, Perkim, Satpol PP, Camat Tenggarong, Perumda Tirta Mahakam, PLN, serta Lurah Melayu. Pemerintah menyatakan pendataan terus dilakukan agar bantuan dan proses pemulihan dapat diberikan secara tepat sasaran.
Penyebab kebakaran sendiri masih dalam penyelidikan kepolisian. Dalam laporan awal yang dikutip detikKalimantan, terdapat dugaan korsleting listrik dari salah satu rumah kontrakan, namun penyebab tersebut belum dinyatakan sebagai kesimpulan resmi. Kerugian material sementara ditaksir sekitar Rp10 miliar.
Bagi Pemkab Kukar, kebakaran di Melayu kini menjadi ujian untuk memastikan kawasan permukiman lama tidak hanya dipulihkan seperti kondisi sebelumnya, tetapi juga dibenahi agar lebih aman, sehat dan memiliki akses yang lebih baik terhadap sistem penanggulangan kebakaran.
Penataan ulang diharapkan menjadi bagian dari pemulihan jangka panjang, sehingga tragedi serupa tidak kembali menghasilkan kerusakan besar hanya karena rapatnya bangunan, terbatasnya akses kendaraan pemadam, atau sulitnya memperoleh sumber air.






