Hotspot Kutim Turun, BPBD Perkuat Patroli 24 Jam

KUTIM, Rilismedia.co — “Kita pertahankan itulah, saling kolaborasi.” Kalimat itu menjadi penegasan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur, Sulastin, di tengah upaya pemerintah daerah menekan kejadian kebakaran lahan.

Meski jumlah titik panas dilaporkan turun dari 57 menjadi 49 titik, kewaspadaan belum dikendurkan karena sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami kebakaran, terutama kawasan yang memiliki aktivitas pertambangan.

Ia mengatakan penurunan titik panas menjadi perkembangan positif. Pada malam sebelumnya masih terdapat kejadian di wilayah Sangatta Selatan. Titik kejadian juga sempat terpantau di kawasan Muara Ancalong, tetapi kondisinya disebut tidak terlalu besar dan dapat segera ditangani melalui kerja bersama petugas dan pihak terkait.

“Kurang dari 57 ini tadi malam. Dari 57 ini tadi malam sejak menjadi 49. Jadi biasanya kan step titik itu 23 sekarang. Sisa satu, tadi malam kejadian di Sengata Selatan. Terus di Marancalong ada titik kejadian tapi tidak terlalu seketikan, bisa diatasi. Hasil kolaborasi semua dengan beberapa pihak,” kata Sulastin, Rabu (9/9/26) kemarin.

Menurut dia, kawasan di bagian selatan dan utara Kutai Timur menjadi wilayah yang perlu mendapatkan perhatian karena karakteristik daerahnya banyak dipengaruhi aktivitas pertambangan. Kondisi tersebut membuat titik panas bisa muncul bahkan sebelum pengaruh El Nino dirasakan. Ketika cuaca kering berlangsung lebih kuat, risiko kebakaran dinilai dapat meningkat.

“Jembatan selatan yang paling banyak karena disini kan daerah tambang. Jadi titik hotspot itu walaupun belum ada El Nino sudah ada memang karena tambang itu. Ditambah El Nino ya semakin banyak,” ujarnya.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kutim memperkuat kesiapsiagaan dengan dukungan personel yang ditempatkan untuk melakukan pemantauan sepanjang hari. Sulastin menyebut terdapat sekitar 30 personel yang disiapkan untuk membantu penanganan hingga situasi dinyatakan selesai. Saat tidak sedang melakukan pemadaman atau penanganan kejadian, personel diarahkan melakukan patroli guna mendeteksi kemunculan titik api sedini mungkin.

“Jadi ada 30 personil itu kita, pokoknya 24 jam, kalau tidak mereka patroli. Patroli, lihat takut ada titik-titik api kan, jadi untuk mencegah itu,” katanya.

Langkah patroli menjadi bagian penting dari strategi pencegahan karena kebakaran yang diketahui lebih awal dapat ditangani sebelum meluas. BPBD Kutim juga berupaya mempertahankan pola respons cepat yang selama ini dilakukan bersama unsur lainnya. Kolaborasi tidak hanya melibatkan petugas penanggulangan bencana, tetapi juga instansi pemerintah, aparat, perusahaan, masyarakat hingga media.

“Karena kita termasuk penanganan yang cukup bagus dan cukup cepat, jadi kita pertahankan itulah ya, saling kolaborasi. Termasuk media, sering diinformasikan gitu kan, biar masyarakat bisa bekerja sama dengan baik dengan kita semua,” ujar Sulastin.

Ia menilai penyampaian informasi kepada masyarakat penting agar warga mengetahui kondisi terkini sekaligus ikut berperan mencegah kebakaran. Masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, khususnya ketika kondisi vegetasi dan lahan mulai mengering akibat minimnya curah hujan.

Berdasarkan data yang disampaikan Sulastin, jumlah kejadian yang telah ditangani di Kutai Timur masih tergolong cukup tinggi. Ia menyebut angka kejadian berada pada kisaran 83 dengan luas area terdampak sekitar 143 hektare lebih. Namun, jika dibandingkan dengan beberapa daerah lainnya, kondisi Kutai Timur dinilai masih dapat ditangani melalui respons lapangan yang cepat.

“Karena kita perkejadian masih 83, terus hektarnya juga masih 143 hektare sekian, dibanding tempat kebupaten lain kan cukup banyak. Kayaknya prioritas yang lebih banyak terjadi. Itu mungkin,” katanya.

BPBD Kutim memastikan pengawasan terhadap titik panas tetap dilakukan meski jumlahnya mengalami penurunan. Patroli 24 jam, respons cepat, serta koordinasi lintas lembaga menjadi langkah yang dipertahankan untuk mencegah kebakaran meluas, terutama selama periode cuaca kering yang dapat meningkatkan kerawanan di wilayah Kutai Timur. (Dit/ADV/Kutim).

Pos terkait