KUTIM, Rilismedia.co — Sejarah lokal kini tak lagi harus berhenti di halaman buku. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong generasi muda menghidupkan kembali cerita daerah melalui storytelling dan konten digital yang menarik, tanpa meninggalkan ketepatan fakta sejarah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui Workshop Storytelling dan Digital Content Sejarah Lokal yang berlangsung pada Rabu hingga Jumat (9-11/9/2026). Kegiatan itu diikuti 15 pelajar tingkat SMA, SMK, dan MA yang mendapatkan pembekalan mengenai proses pencarian ide, penggalian informasi, penyusunan cerita, teknik storytelling hingga produksi konten digital bertema sejarah lokal Kutai Timur.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat menerima dan membagikan informasi. Kondisi itu, menurutnya, perlu dimanfaatkan untuk membuat sejarah daerah lebih mudah dikenal dan dipahami, terutama oleh kalangan muda yang akrab dengan media digital.
“Sekarang cara menyampaikan informasi sudah berkembang. Karena itu sejarah lokal juga harus bisa dikemas dalam bentuk konten digital yang menarik, tanpa menghilangkan nilai dan fakta sejarahnya,” kata Ilham.
Menurut Ilham, penyajian sejarah melalui format digital bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman. Langkah tersebut juga dapat menjadi strategi untuk memperluas jangkauan edukasi sejarah serta membangun ketertarikan pelajar terhadap kekayaan budaya dan perjalanan daerahnya sendiri.
Namun, kreativitas dalam pembuatan konten tetap harus berjalan seiring dengan kemampuan memahami sumber informasi. Peserta didorong tidak hanya mampu menghasilkan karya yang menarik secara visual maupun naratif, tetapi juga mampu memeriksa dan menggunakan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Konten yang dibuat harus kreatif, tetapi tetap berdasarkan fakta. Jangan sampai karena ingin menarik perhatian, informasi sejarah justru berubah atau tidak sesuai dengan sumbernya,” jelasnya.
Dalam rangka memperkuat pemahaman peserta, Disdikbud Kutim turut mengadakan orientasi lapangan di Gedung Museum Budaya. Di lokasi tersebut, para pelajar diarahkan untuk menggali informasi, mengamati berbagai sumber pengetahuan, serta mencari bahan yang dapat dikembangkan menjadi cerita maupun konten digital sejarah lokal.
Gedung Museum Budaya selama ini berfungsi sebagai salah satu ruang edukasi budaya sekaligus pusat informasi yang mendukung Geopark Sangkulirang Mangkalihat. Keberadaannya dinilai strategis untuk mempertemukan generasi muda dengan sumber-sumber pengetahuan mengenai sejarah, budaya, dan kekayaan daerah secara lebih langsung.
Melalui pengalaman lapangan tersebut, peserta tidak hanya belajar mengolah informasi yang sudah tersedia, tetapi juga memahami proses menemukan bahan cerita. Tahapan itu diharapkan membuat karya yang dihasilkan memiliki keterkaitan kuat dengan identitas dan karakter lokal Kutai Timur.
Ilham menilai pembelajaran sejarah perlu terus menyesuaikan diri dengan kebiasaan generasi muda. Pemanfaatan video pendek, media sosial, narasi visual, dan beragam platform digital dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan sejarah kepada khalayak yang lebih luas.
“Kami berharap muncul karya-karya dari anak muda yang bisa menjadi media edukasi sekaligus dokumentasi sejarah lokal Kutai Timur,” pungkasnya.(Dit/ADV/Kutim).






