Gedung Baru Pasar Pagi Samarinda Berdiri, Pedagang Masih Menunggu Pembeli

SAMARINDA, Rilismedia.co — Gedung baru Pasar Pagi Samarinda terlihat jauh berbeda dari bangunan lamanya. Fasad modern, ruang yang lebih tertata, serta fasilitas baru menandai investasi besar pemerintah untuk menghidupkan kembali salah satu pusat perdagangan tertua di Kota Tepian.

Namun, kemegahan bangunan belum otomatis mengembalikan denyut perdagangan.

Suasana di dalam pasar masih relatif lengang. Sejumlah lapak belum aktif dan sebagian pedagang masih menunggu pembeli datang. Padahal, revitalisasi Pasar Pagi telah memasuki tahap akhir dan pemerintah sebelumnya menargetkan kawasan tersebut kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi.

Data yang diberitakan sebelumnya menunjukkan terdapat sekitar 2.586 lapak di Pasar Pagi. Dari jumlah itu, lebih dari 1.000 lapak disebut belum terisi atau belum aktif digunakan untuk berdagang.

Kondisi tersebut ikut menjadi perhatian DPRD Samarinda. Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menilai keberhasilan revitalisasi tidak cukup diukur dari kemegahan bangunan. Aktivitas ekonomi di dalamnya harus menjadi ukuran utama.

Menurut dia, pemerintah perlu memastikan pasar benar-benar kembali menjadi ruang transaksi, bukan hanya bangunan baru dengan banyak kios kosong.

Pasar Pagi bukan sekadar gedung perdagangan. Pasar ini memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat ekonomi Samarinda. Bangunan lamanya dibongkar pada 2024 untuk digantikan dengan fasilitas baru setelah puluhan tahun menjadi titik aktivitas perdagangan masyarakat.

Kondisi pasar pagi sebelum direvitalisasi.(ist)

Karena itu, persoalan yang muncul sekarang bukan lagi apakah pemerintah mampu membangun pasar baru.

Pertanyaannya: apakah bangunan baru itu mampu menarik kembali pembeli?

Pemerintah Kota Samarinda telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjawab persoalan tersebut. Dinas Perdagangan antara lain menyiapkan kegiatan rutin dan mengevaluasi lapak yang belum aktif agar kawasan tidak berubah menjadi bangunan besar dengan aktivitas perdagangan yang minim.

Pemerintah juga memberikan batas waktu hingga akhir Agustus 2026 bagi pemilik lapak yang belum berjualan. Lapak yang tetap kosong terancam dialihkan kepada pedagang lain yang siap berdagang.

Namun, Iswandi mengingatkan persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan meminta pedagang mengisi kios. Konsep dan pola perdagangan juga perlu dievaluasi jika kondisi pasar belum mampu menarik pembeli.

Di sisi lain, masih ada pekerjaan pendukung yang belum sepenuhnya selesai. Pemerintah menyiapkan penanganan persoalan tempias air hujan dengan anggaran sekitar Rp3 miliar, yang ditargetkan rampung pada 2026.

Artinya, setelah revitalisasi fisik menelan proses panjang, pemerintah kini menghadapi fase yang berbeda: menghidupkan ekosistem ekonomi di dalamnya.

Pedagang membutuhkan pembeli. Pembeli membutuhkan alasan untuk datang. Sementara pasar membutuhkan aktivitas yang cukup agar keberadaan kios dan fasilitas baru tidak sekadar menjadi perubahan wajah kawasan.

Jika konektivitas, pengisian lapak, promosi, dan aktivitas perdagangan tidak berjalan bersamaan, gedung modern tersebut berisiko menghadapi persoalan yang berbeda dari pasar lama.

Bukan lagi soal bangunan yang kumuh.

Melainkan bangunan yang bagus, tetapi kehilangan keramaian.

Karena itu, pekerjaan terbesar Pemkot setelah revitalisasi bukan berhenti pada meresmikan Pasar Pagi. Ukurannya justru sederhana: apakah pedagang kembali memperoleh pembeli, apakah lapak terisi, dan apakah masyarakat kembali menjadikan Pasar Pagi sebagai tujuan berbelanja.

Sebab pasar pada akhirnya bukan dinilai dari megahnya gedung. Pasar hidup karena transaksi.

Pos terkait