SAMARINDA — Di tengah lalu-lalang pengunjung dan hiruk-pikuk pusat perbelanjaan, SMK Medika Samarinda ingin menghadirkan suasana yang berbeda.
Bukan sekadar panggung hiburan atau kegiatan pendidikan, sekolah tersebut akan menggelar Medika Bersholawat, sebuah kegiatan bernuansa religius yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dalam agenda Education Expo Gramedia Big Fair di Samarinda Square.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara yang berlangsung sejak 30 Agustus hingga 13 September 2026. SMK Medika menggandeng Ramayana, PT Jakarta Intiland, Gramedia, pelaku UMKM Kota Samarinda, serta sejumlah pihak lainnya dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Kepala SMK Medika Samarinda, Musmulyadi, mengatakan pendidikan tidak hanya berbicara tentang kemampuan akademik dan keterampilan kerja. Sekolah juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter dan nilai kehidupan peserta didik.

Karena itu, rangkaian Education Expo tidak hanya diisi kegiatan literasi dan kewirausahaan, tetapi juga menghadirkan kegiatan keagamaan melalui Medika Bersholawat.
Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung pada malam Jumat, 3 September sebagai bagian dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Menurut Musmulyadi, kehadiran unsur keagamaan dalam kegiatan sekolah menjadi bagian dari upaya memberikan keseimbangan dalam proses pendidikan siswa.
SMK, kata dia, memang memiliki orientasi kuat terhadap kesiapan kerja. Namun, kemampuan teknis saja tidak cukup apabila tidak diiringi dengan karakter dan pegangan nilai yang kuat.
“Anak-anak kita jangan hanya berputar di akademisi saja. Mereka juga harus bisa mengembangkan diri, termasuk memiliki karakter dan kemampuan untuk berwirausaha,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, SMK Medika juga akan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk unsur Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, serta praktisi kewirausahaan.
Bukan Hanya Menyiapkan Lulusan untuk Bekerja
Musmulyadi menjelaskan, SMK Medika mengembangkan pola pendidikan yang tidak hanya menyiapkan siswa untuk langsung memasuki dunia kerja.
Ia merangkum tujuan tersebut dalam konsep BMW: bekerja, melanjutkan studi, dan berwirausaha.
Menurut dia, lulusan SMK harus memiliki pilihan untuk menentukan masa depannya. Sebagian mungkin langsung bekerja, sebagian melanjutkan pendidikan, sementara yang lain dapat membangun usaha sendiri.
Namun, seluruh pilihan itu tetap membutuhkan fondasi karakter.
Karena itu, penguatan nilai religius melalui kegiatan seperti Medika Bersholawat menjadi salah satu bagian dari upaya pembinaan siswa.
Di sisi lain, Education Expo Gramedia Big Fair juga membawa misi penguatan budaya literasi. Salah satu kegiatan utamanya adalah gerakan 1.000 siswa membaca buku yang dilaksanakan secara bertahap selama 15 hari.
Ketua Panitia Education Expo Gramedia Big Fair, Aldi, mengatakan kegiatan membaca tersebut terbuka untuk umum dan diharapkan dapat menjadi pemantik gerakan literasi yang lebih luas.
“Tujuannya bagaimana literasi pelajar kita semakin bertambah dan ini dimulai dari Medika,” kata Aldi.
Ia berharap gerakan tersebut tidak berhenti di SMK Medika.
“Ke depan bukan hanya Medika yang mengadakan. Mudah-mudahan sekolah lain juga bisa melakukan gerakan membaca buku,” ujarnya.
Selain membaca dan Medika Bersholawat, sejumlah kegiatan lain juga akan digelar, seperti lomba tari untuk pelajar sekolah dasar pada 5 September dan fashion show pada 6 September.
Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan di luar pembelajaran formal di kelas.
Dari Mal ke Ruang Pendidikan dan Keagamaan
Samarinda Square sendiri memiliki hubungan panjang dengan perjalanan SMK Medika.
Musmulyadi mengatakan kolaborasi antara SMK Medika, Ramayana, dan PT Jakarta Intiland telah terjalin sejak 2015. Selama bertahun-tahun, kawasan pusat perbelanjaan tersebut menjadi salah satu ruang bagi siswa untuk menggelar kegiatan dan memperkenalkan berbagai aktivitas sekolah kepada masyarakat.
Kini, ruang itu kembali digunakan dengan wajah yang berbeda.
Di satu sisi terdapat buku dan gerakan literasi. Di sisi lain ada kegiatan seni, kewirausahaan, dan kreativitas siswa. Pada malam tertentu, kawasan yang biasanya dipenuhi aktivitas perdagangan itu akan diisi lantunan selawat dalam peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Bagi SMK Medika, perpaduan tersebut menjadi bagian dari cara sekolah membangun pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik.
Musmulyadi menyebut pembinaan siswa membutuhkan keberanian untuk berkembang, ketekunan, daya tahan, serta strategi dalam menentukan masa depan.
Nilai tersebut, menurut dia, menjadi bagian penting dalam membentuk generasi muda yang siap menghadapi perubahan.
Kolaborasi SMK Medika dan Samarinda Square sebelumnya juga telah menghadirkan kegiatan bernuansa keagamaan dan kebangsaan. Kementerian Agama Kota Samarinda mencatat kegiatan Khataman Al-Qur’an dan Festival Merah Putih yang melibatkan SMK Medika sebagai bagian dari upaya menanamkan nilai agama sekaligus nasionalisme kepada peserta didik.
Melalui Medika Bersholawat, upaya tersebut kembali dilanjutkan.
Di tengah pendidikan vokasi yang menuntut keterampilan, kesiapan kerja, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman, SMK Medika mencoba menyisakan ruang lain: ruang untuk memperkuat nilai spiritual.
Sebab bagi sekolah ini, menyiapkan masa depan siswa bukan hanya soal ke mana mereka akan bekerja setelah lulus.
Tetapi juga tentang nilai apa yang mereka bawa ketika menjalani kehidupan.






