SAMARINDA – Kepastian jumlah cabang olahraga untuk Pekan Olahraga Provinsi atau Porprov Kaltim VIII akhirnya datang. Namun, keputusan itu sekaligus menandai penyusutan agenda pertandingan menjelang pesta olahraga tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung di Kabupaten Paser pada 14–27 November 2026.
PB Porprov kini mengusulkan 59 cabang olahraga dengan 1.014 nomor pertandingan. Artinya, lima cabang olahraga tidak lagi masuk dalam daftar pertandingan yang diajukan untuk Porprov Kaltim VIII.
Keputusan tersebut tertuang dalam surat PB Porprov yang telah diterima KONI Kaltim. Ketua Umum KONI Kaltim, H Anderiy ST, membenarkan penerimaan surat bernomor 09/PB.Porprov/XI/2026 tersebut.
“Kemarin sore kita sudah menerima surat dari PB Porprov terkait jumlah cabor dan nomor tanding yang akan dipertandingkan,” ujar Anderiy.
KONI Kaltim selanjutnya akan meneruskan informasi itu kepada seluruh KONI kabupaten dan kota di Kalimantan Timur. Kepastian jumlah cabang dan nomor pertandingan menjadi penanda penting bagi daerah untuk menyusun kembali persiapan kontingen, kurang dari tiga bulan sebelum Porprov dimulai.
Namun angka 59 itu bukan angka yang sejak awal menjadi kesepakatan.
Pada pertengahan Agustus 2026, pembahasan antara KONI Kaltim dan PB Porprov sempat menghasilkan kesepakatan mempertandingkan 64 cabang olahraga dengan 1.066 nomor pertandingan. Saat itu, persoalan yang masih mengemuka adalah kebutuhan anggaran untuk membiayai pelaksanaan seluruh pertandingan.
Sebelumnya, pembahasan efisiensi bahkan diarahkan pada kemungkinan memangkas nomor pertandingan dan memadatkan hari pelaksanaan. Langkah tersebut muncul karena 64 cabang olahraga telah melalui tahapan yang berkaitan dengan persiapan dan babak kualifikasi, sehingga pengurangan cabor sempat menjadi pilihan yang dihindari.
Kini, keterbatasan fiskal tampaknya memaksa kompromi lebih jauh.
Anderiy mengatakan KONI Kaltim sebelumnya telah mengusulkan agar seluruh 64 cabang olahraga tetap dipertandingkan. Namun kemampuan anggaran menjadi faktor yang membuat usulan tersebut tidak sepenuhnya dapat dipertahankan.
“Kami dari KONI Kaltim sebenarnya juga sudah memberikan masukan ke PB Porprov, harapannya bisa mempertimbangkan untuk mempertandingkan 64 cabor. Tapi karena kondisi fiskal, kemampuan APBD provinsi, kami juga tidak bisa berharap banyak,” katanya.
Persoalan anggaran sebenarnya telah membayangi persiapan Porprov sejak beberapa bulan terakhir. Pada akhir Juli, muncul informasi bahwa bantuan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk penyelenggaraan Porprov berada jauh di bawah kebutuhan yang sebelumnya diajukan. Situasi itu kemudian mendorong pembahasan ulang mengenai jumlah cabang olahraga dan nomor pertandingan yang realistis untuk digelar.
Anderiy menegaskan keputusan mengenai 59 cabang olahraga tidak lahir dari campur tangan pihak tertentu. Menurut dia, angka tersebut merupakan hasil pembahasan yang berlangsung melalui sejumlah forum, mulai pertemuan langsung, rapat daring hingga audiensi dengan Gubernur Kalimantan Timur.
“Saya pastikan tidak ada intervensi. Keputusan usulan ini berdasarkan keterbatasan anggaran dan pertimbangan efisiensi, supaya pelaksanaan Porprov tetap terlaksana. Kita dari KONI Kaltim harus bijak menerima usulan ini,” tegasnya.
Lima Cabor Keluar dari Daftar
Lima cabang olahraga yang tidak masuk dalam usulan pertandingan Porprov Kaltim VIII adalah korfball indoor, ski air, barongsai, petanque, dan woodball.
Pemangkasan tersebut membuat jumlah nomor pertandingan turut berkurang dari angka 1.066 nomor yang sempat disepakati pada Agustus menjadi 1.014 nomor dalam usulan terbaru. Dengan kata lain, dalam waktu sekitar tiga minggu, komposisi pertandingan Porprov kembali berubah.
Meski demikian, KONI Kaltim belum sepenuhnya menutup kemungkinan bagi lima cabang olahraga tersebut untuk tetap menggelar pertandingan.
Anderiy mengatakan KONI Kaltim akan memanggil pengurus masing-masing cabang olahraga untuk membahas opsi lain. Salah satu skema yang ditawarkan adalah pembiayaan mandiri, dengan lokasi pertandingan tidak harus berada di Kabupaten Paser.
“Terkait lima cabor yang belum bisa dipertandingkan, kami dari KONI Kaltim akan mencoba memanggil masing-masing pengurusnya. Kita akan menawarkan opsi, jika mereka tetap ingin dipertandingkan, silakan dengan biaya mandiri, dan boleh dilaksanakan di Balikpapan atau Samarinda, tidak harus di Kabupaten Paser,” ujar Anderiy.
Opsi pertandingan di luar Paser sebenarnya bukan hal baru dalam perencanaan Porprov VIII. Sejak tahap awal persiapan, penyelenggara telah mempertimbangkan pelaksanaan sejumlah cabang di daerah lain karena keterbatasan atau kebutuhan fasilitas pertandingan. Pemerintah Provinsi Kaltim juga sebelumnya menyebut strategi efisiensi dapat dilakukan melalui penyesuaian nomor pertandingan dan penggunaan fasilitas yang tersedia.
Mempertahankan Kalender 2026
Di tengah penyusutan jumlah cabang olahraga, KONI Kaltim memilih mempertahankan pelaksanaan Porprov pada November tahun ini.
Menurut Anderiy, keputusan tersebut penting agar agenda pembinaan atlet tidak semakin bergeser dan berbenturan dengan agenda menuju kompetisi nasional.
“Setidaknya kita di Kaltim bersyukur pelaksanaannya masih bisa berlangsung akhir tahun nanti. Semoga bisa berjalan lancar dan sesuai jadwal,” ungkapnya.
Pertimbangan mengenai kesinambungan pembinaan itu memiliki kaitan langsung dengan agenda olahraga nasional. Pemerintah telah menetapkan PON XXII akan digelar pada 2028, dengan Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan DKI Jakarta sebagai daerah tuan rumah. Tahapan menuju ajang tersebut tentu membutuhkan proses pembinaan dan seleksi atlet di tingkat daerah hingga babak kualifikasi.
Pemprov Kaltim sendiri sebelumnya menyebut Porprov VIII sebagai salah satu bagian dari proses persiapan atlet menuju Babak Kualifikasi PON. Dalam konteks itu, Porprov tidak hanya menjadi agenda pertandingan antardaerah, tetapi juga arena untuk mengukur dan menjaring atlet yang berpotensi dibina ke level lebih tinggi.
Anderiy menilai penundaan pelaksanaan justru dapat menimbulkan persoalan baru bagi program latihan atlet.
“Ini yang harus kita hindari. Untuk itu, sekali lagi mari kita doakan semoga pelaksanaan Porprov bisa berlangsung sukses di Paser nanti, sehingga pembinaan atlet di masing-masing kabupaten kota bisa berjalan. Misi kami untuk seleksi dan penjaringan atlet potensial yang dipersiapkan ke ajang lebih tinggi seperti PON juga lebih profesional dan tepat sasaran,” pungkas Anderiy.
Porprov Kaltim VIII dengan demikian tetap berjalan pada kalender 2026. Tetapi keputusan terbaru juga memperlihatkan bagaimana keterbatasan anggaran memaksa penyelenggara melakukan penyesuaian hingga pada daftar cabang olahraga yang akan dipertandingkan.
Dari 64 cabor yang sempat disepakati pada Agustus, kini tersisa 59 cabor dengan 1.014 nomor pertandingan. Lima cabang lainnya masih menunggu hasil pembicaraan dengan KONI Kaltim termasuk kemungkinan tetap bertanding dengan pembiayaan mandiri di luar Kabupaten Paser.






