SAMARINDA — Selama bertahun-tahun, pusat perbelanjaan identik dengan aktivitas belanja dan hiburan. Namun, di Samarinda Square, ruang itu perlahan juga digunakan sebagai tempat belajar, berkreasi, hingga membangun budaya literasi.
SMK Medika Samarinda kembali memanfaatkan kawasan tersebut untuk menggelar rangkaian Education Expo Gramedia Big Fair. Bersama Ramayana, PT Jakarta Intiland, pelaku UMKM Kota Samarinda dan Gramedia, sekolah itu menyiapkan sejumlah kegiatan yang berlangsung sejak 30 Agustus hingga 13 September 2026.
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah gerakan 1.000 siswa membaca buku. Kegiatan itu tidak dilaksanakan dalam satu waktu, melainkan secara bertahap setiap hari selama rangkaian pameran berlangsung.
Ketua Panitia Education Expo Gramedia Big Fair, Aldi, mengatakan gerakan tersebut sengaja dimulai oleh SMK Medika dengan harapan dapat mendorong sekolah lain melakukan kegiatan serupa.
“Dari SMK Medika ada gerakan membaca buku seribu siswa. Itu akan dilakukan secara bertahap setiap hari dan terbuka juga untuk umum. Tujuannya bagaimana literasi pelajar kita semakin bertambah dan ini dimulai dari Medika,” kata Aldi.
Menurut dia, gerakan tersebut tidak dimaksudkan berhenti sebagai kegiatan internal sekolah.
“Harapannya ke depan bukan hanya Medika yang mengadakan, tetapi sekolah-sekolah lain juga bisa membuat gerakan membaca buku,” ujarnya.
Selain kegiatan literasi, Education Expo Gramedia Big Fair juga akan diisi sejumlah agenda lain. Di antaranya lomba tari untuk pelajar sekolah dasar pada 5 September, fashion show pada 6 September, serta kegiatan Medika Bersholawat yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Sejumlah agenda kewirausahaan dan pengembangan diri juga disiapkan. Kepala SMK Medika Samarinda, Musmulyadi, dijadwalkan menjadi salah satu pengisi materi.
Bagi Musmulyadi, pendidikan vokasi tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Sekolah, menurut dia, harus membuka ruang agar siswa memiliki pilihan masa depan yang lebih luas.
Ia menyebut konsep pendidikan SMK yang dikembangkan di Medika berangkat dari tiga tujuan utama, yang dirangkum dalam istilah BMW: bekerja, melanjutkan studi, dan berwirausaha.
Artinya, lulusan SMK tidak semata-mata diarahkan untuk mencari pekerjaan setelah lulus. Mereka juga harus memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan maupun membangun usaha sendiri.
Karena itu, dalam rangkaian kegiatan tersebut, SMK Medika juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, termasuk unsur Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, hingga praktisi kewirausahaan.
“Supaya anak-anak kita tidak hanya berputar di akademisi saja, tetapi mereka juga bisa mengembangkan wirausaha,” kata Musmulyadi.
Ia juga memaparkan kerangka pembinaan yang digunakan untuk mendorong perkembangan siswa. Musmulyadi menyebutnya sebagai prinsip K3S, yang menekankan keberanian untuk maju dan berkembang, keberanian mengambil peluang, kekuatan dalam bentuk kesabaran dan militansi, serta strategi dalam menentukan langkah.
“Tanpa strategi, keberanian bisa menjadi konyol,” ujarnya.
Hubungan Medika dan Samarinda Square
Bagi SMK Medika, Samarinda Square bukan sekadar lokasi penyelenggaraan acara.
Musmulyadi mengatakan hubungan antara sekolah, Ramayana, dan PT Jakarta Intiland telah terjalin sejak 2015. Selama lebih dari satu dekade, berbagai kegiatan siswa digelar di kawasan tersebut.
Menurut Mus, pertumbuhan SMK Medika juga tidak dapat dilepaskan dari ruang yang diberikan Samarinda Square bagi siswa untuk tampil, berkegiatan, hingga memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.
“SMK Medika, Ramayana dan Jakarta Intiland ini tidak bisa dipisahkan. Mulai tahun 2015 SMK Medika sudah ada dan bercokol di mal ini,” kata Musmulyadi.
Kolaborasi itu kembali terlihat dalam berbagai kegiatan sepanjang 2026. Sebelumnya, SMK Medika bersama Samarinda Square juga menggelar Festival Merah Putih dan kegiatan Khataman Al-Qur’an.
Kantor Kementerian Agama Kota Samarinda mencatat kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memadukan penguatan nilai keagamaan, nasionalisme, dan kreativitas peserta didik. Kolaborasi antara SMK Medika dan pusat perbelanjaan itu, menurut Kemenag Samarinda, telah berlangsung sejak 2015.
Di tengah perkembangan sekolah yang semakin besar, SMK Medika juga terus membangun ruang bagi siswa untuk berprestasi di luar kegiatan akademik.
Pada Desember 2025, tim futsal putri SMK Medika berhasil meraih juara pertama dalam Smalan Cup VII yang diikuti puluhan tim sekolah. Capaian tersebut dicatat dalam laporan resmi Pemerintah Kota Samarinda.
Sementara RRI Samarinda pada 2026 mencatat SMK Medika mulai memperluas pembinaan siswa ke bidang seni dan musik, setelah sebelumnya dikenal aktif mengembangkan prestasi olahraga.
Melalui Education Expo Gramedia Big Fair, SMK Medika kini mencoba menambahkan satu agenda lain dalam ruang pembinaan itu: menghidupkan kembali kebiasaan membaca.
Selama 15 hari, buku, kegiatan kewirausahaan, seni, keagamaan, hingga kreativitas siswa akan mengisi salah satu pusat aktivitas masyarakat di Samarinda.
Targetnya bukan sekadar membuat sebuah event ramai.
Bagi SMK Medika, gerakan 1.000 siswa membaca buku di Samarinda Square diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih luas—ketika pusat keramaian tidak hanya menjadi tempat orang datang untuk berbelanja, tetapi juga ruang bagi pelajar untuk belajar, membaca, berkarya, dan menyiapkan masa depannya.






