Ribuan Mahasiswa UI Turun Jalan Soroti Krisis Ekonomi

JAKARTA – Gelombang protes mahasiswa kembali menguat di tengah meningkatnya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Sekitar seribu mahasiswa Universitas Indonesia (UI) bergerak dari Kampus Depok menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026), untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin membebani rakyat.

Sejak pagi, massa aksi mulai berkumpul di Lapangan Parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI. Mereka membawa berbagai spanduk dan poster berisi kritik terhadap kebijakan pemerintah, terutama terkait kenaikan harga kebutuhan pokok, terbatasnya lapangan pekerjaan, serta beban pajak yang dianggap semakin memberatkan kelompok masyarakat menengah ke bawah.

Bacaan Lainnya

Pemandangan menarik terlihat dari persiapan aksi tersebut. Selain menggunakan bus dan angkutan kota untuk mengangkut peserta demonstrasi, mahasiswa juga menyiapkan kendaraan khusus yang membawa tim medis beserta perlengkapan kesehatan sebagai langkah antisipasi selama aksi berlangsung.

Mayoritas peserta mengenakan almamater kuning khas Universitas Indonesia yang dipadukan dengan pakaian hitam sebagai simbol keprihatinan terhadap kondisi yang mereka sebut sebagai krisis ekonomi yang kian terasa di berbagai lapisan masyarakat.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Yatalathof, mengatakan aksi tersebut merupakan respons atas semakin sulitnya kondisi ekonomi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda yang menghadapi tantangan besar dalam memperoleh pekerjaan.

“Lapangan kerja makin menyempit, harga sudah naik semua, dan juga pajak masih diterapkan kepada rakyat menengah ke bawah, termasuk rakyat kecil, oleh karena itu kita ingin menuntut pemerintah eksekutif dan juga legislatif,” ucap Yatalathof.

Menurut mahasiswa, perlambatan penciptaan lapangan kerja di tengah meningkatnya jumlah angkatan kerja telah memicu kekhawatiran akan bertambahnya angka pengangguran, terutama di kalangan lulusan baru. Situasi tersebut diperparah oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan yang dinilai tidak sebanding dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

Selain menyoroti persoalan ekonomi, mahasiswa juga mengkritik sejumlah program pemerintah yang dianggap tidak memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat dan justru berpotensi membebani keuangan negara.

“Program-program yang memboroskan anggaran, dan juga berhenti untuk mengeles atau berkilah dan tidak mengakui bahwa kondisi. Sekarang sudah krisis,” tutur Yatalathof.

Aksi di Bundaran HI diperkirakan menjadi salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar dalam beberapa bulan terakhir. BEM UI menyebut jumlah peserta yang berangkat dari Depok mencapai sekitar 1.000 orang, sementara jika digabung dengan elemen mahasiswa dan kelompok masyarakat lainnya, massa aksi diperkirakan dapat mencapai ribuan peserta.

“Jumlah massa dari sekitar Depok ini ada 1.000, dan misalkan jika digabung dengan yang lain bisa menyentuh 3.0000,” kata Yatalathof.

Demonstrasi tersebut menjadi sinyal meningkatnya keresahan kelompok mahasiswa terhadap kondisi ekonomi nasional. Selain menyampaikan tuntutan kepada pemerintah dan DPR, aksi ini juga disebut sebagai upaya mengingatkan para pemangku kebijakan agar lebih responsif terhadap persoalan pengangguran, daya beli masyarakat, dan efektivitas penggunaan anggaran negara.

Hingga massa bergerak menuju lokasi aksi, aparat kepolisian dan TNI telah disiagakan di sejumlah titik sekitar Bundaran HI guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan mengatur kelancaran lalu lintas selama demonstrasi berlangsung.

Pos terkait