Kutim Bidik Wisatawan Lokal, Cegah Uang Mengalir Keluar

KUTIM, Rilismedia.co — “Uang dicari di sini, tetapi dibawa berlibur keluar.” Gambaran itu menjadi salah satu persoalan yang kini coba dijawab Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui pengembangan destinasi wisata lokal. Dinas Pariwisata Kutai Timur melihat besarnya jumlah pekerja sektor perkebunan dan pertambangan sebagai pasar potensial yang dapat menggerakkan ekonomi pariwisata di daerah sendiri.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata, Demmy Aditya Herwanto, mengatakan strategi pengembangan pariwisata Kutai Timur dimulai dengan membaca kekurangan sekaligus potensi pasar yang tersedia. Dari sisi visual destinasi, ia mengakui Kutai Timur memiliki tantangan apabila dibandingkan dengan daerah lain seperti Kabupaten Berau. Namun, kondisi tersebut bukan alasan untuk menghentikan pengembangan sektor wisata.

Menurut Demmy, Kutai Timur memiliki kekuatan lain berupa jumlah pekerja yang besar pada sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara. Berdasarkan data yang ia sampaikan, terdapat sekitar 128 perusahaan perkebunan. Jika setiap perusahaan secara konservatif diasumsikan mempekerjakan sekitar 1.000 orang, terdapat pasar lebih dari seratus ribu pekerja yang membutuhkan tempat rekreasi dan aktivitas wisata.

“Jadi harapan kita pihak-pihak swasta ini, perkebunan, perusahaan, tidak lagi melakukan kegiatan-kegiatan di luar dari Kutai Timur,” ujar Demmy saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Strategi tersebut juga didukung hasil kajian yang pernah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Demmy menjelaskan, dari ribuan kuesioner yang disebarkan, sebanyak 909 kuesioner kembali.

“Dari jumlah tersebut, 589 responden menyatakan biasa melakukan perjalanan liburan ke luar Kutai Timur, ” tuturnya.

Ia menyebut wisatawan tersebut membawa anggaran perjalanan lebih dari Rp5 juta. Dengan menggunakan angka Rp5 juta sebagai perhitungan minimum, belanja masyarakat untuk wisata di luar daerah dinilai cukup besar, terlebih apabila perjalanan dilakukan lebih dari sekali dalam setahun.

Potensi kebocoran belanja wisata itulah yang ingin ditekan dengan menyediakan pilihan destinasi di dalam Kutai Timur.

“Pemerintah daerah Kutim berharap masyarakat tidak selalu harus pergi ke daerah lain untuk mendapatkan tempat berlibur, berkumpul bersama keluarga maupun mengikuti kegiatan perusahaan,” harapnya.

Demmy memperkirakan, apabila sebagian kecil saja penduduk Kutai Timur memilih menghabiskan dana rekreasi di daerah sendiri, perputaran ekonominya dapat mencapai ratusan miliar rupiah. Dana tersebut berpotensi masuk ke berbagai sektor, mulai usaha kuliner, penginapan, transportasi, jasa perjalanan hingga pelaku UMKM di sekitar destinasi.

Salah satu destinasi yang diarahkan untuk menangkap peluang tersebut adalah Pantai Marang. Lokasinya dinilai strategis karena berdekatan dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Perusahaan di sekitar kawasan itu diharapkan dapat memanfaatkan destinasi lokal untuk gathering maupun berbagai kegiatan internal.

Pendekatan tersebut tidak semata mengejar penerimaan retribusi masuk objek wisata. Menurut Demmy, nilai yang jauh lebih penting adalah efek berantai terhadap perekonomian masyarakat. Bertambahnya pengunjung dapat meningkatkan penjualan pedagang makanan, membuka peluang usaha baru serta memperbesar kebutuhan jasa pendukung wisata.

Dengan strategi menahan belanja wisata agar tetap berputar di Kutai Timur, pengembangan destinasi diarahkan menjadi instrumen ekonomi daerah. Pemerintah berharap wisata lokal tidak sekadar menjadi tempat rekreasi, tetapi juga mampu menciptakan pasar bagi masyarakat dan mengurangi aliran belanja wisata ke luar daerah. (Dit/ADV/KUTIM).

Pos terkait