Rilismedia.co — Kebakaran lahan di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, mulai mendekati permukiman warga. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur turun langsung dan menyiapkan langkah yang lebih besar: mengusulkan status siaga darurat agar operasi modifikasi cuaca dapat kembali dijalankan.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji bersama BPBD Kaltim dan sejumlah instansi mendatangi lokasi setelah menerima laporan munculnya titik api baru sekitar pukul 14.30 WITA. Di lapangan, api ditemukan bergerak mendekati permukiman karena kondisi angin cukup kencang.
Pemadaman kemudian dilakukan bersama BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, KPHP, serta relawan. Sejumlah unit tangki air dikerahkan untuk menahan api agar tidak masuk ke kawasan rumah warga. Pemprov Kaltim menyebut sedikitnya empat titik di Pendingin dan kawasan Bantuas turut dipantau dalam penanganan tersebut.
“Alhamdulillah, berkat dukungan sejumlah pihak, api yang mau menyebar ke permukiman warga cepat dipadamkan,” kata Seno.
Namun pemerintah belum mengetahui secara pasti dari mana api bermula. Tim masih menelusuri kemungkinan sumber kebakaran berasal dari lahan masyarakat, kawasan perkebunan, atau hutan di belakang permukiman.
Seno mengingatkan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, termasuk membakar sampah di kawasan yang berisiko. Imbauan itu menjadi penting karena lahan kering dan angin dapat mempercepat penjalaran api.

170 Titik Api, Risiko Belum Selesai
Pendingin hanya satu bagian dari persoalan yang lebih besar.
Data BPBD Kaltim per 19 Agustus menunjukkan terdapat 413 titik kejadian karhutla dengan luas terdampak sekitar 936,95 hektare di Kaltim. Paser menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak, sementara Kutai Barat mencatat luas lahan terbakar paling besar.
Karena itu, angka sekitar 170 titik api yang disebut Seno sebagai kondisi terbaru tidak bisa dibaca sebagai tanda bahwa persoalan telah selesai. Titik api dapat kembali bertambah apabila cuaca kering dan sumber api baru tidak segera dikendalikan.
Pemerintah pun mulai menggeser strategi dari sekadar pemadaman darat menuju intervensi cuaca.


Seno meminta BPBD Kaltim segera menyiapkan surat status siaga darurat sebagai dasar pengajuan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada BNPB. Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat dan Paser disebut menjadi wilayah yang mendapat perhatian.
Langkah itu bukan tanpa preseden. BMKG pada 24 Agustus menyatakan OMC di Kaltim telah diarahkan ke Berau setelah sebelumnya dilakukan di kawasan IKN. Operasi tersebut ditujukan untuk menekan eskalasi titik api melalui peningkatan peluang hujan.
BNPB juga tengah memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan melalui kombinasi operasi darat, pemadaman udara dan OMC. Artinya, pemerintah pusat melihat persoalan karhutla di Kalimantan sebagai ancaman yang membutuhkan operasi lintas wilayah.
Api dan Krisis Air Berjalan Bersamaan
Di Pendingin, persoalan tidak berhenti pada kebakaran. Warga juga menghadapi keterbatasan air.
Pemprov Kaltim berencana berkoordinasi dengan Pemkab Kutai Kartanegara untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat di wilayah terdampak.
Situasi ini memperlihatkan paradoks di lapangan: air dibutuhkan untuk memadamkan api, tetapi pada saat yang sama warga juga membutuhkannya untuk bertahan dalam kondisi kemarau.
Ancaman juga merambah sektor kesehatan. Dinas Kesehatan Kaltim telah menyiapkan puluhan ribu boks masker untuk lima wilayah yang dinilai memiliki risiko paparan asap tinggi, yakni Kutai Kartanegara, Berau, Kutai Barat, Penajam Paser Utara dan Paser. Masker diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil dan lanjut usia.
Dengan demikian, penanganan Pendingin tidak cukup diukur dari apakah api hari ini berhasil dipadamkan.
Ada tiga pekerjaan yang berjalan bersamaan: memastikan sumber api, menjaga permukiman, dan mencegah titik api baru kembali muncul.
Pemprov Kaltim juga perlu memastikan OMC tidak berhenti pada rencana administratif. Sebab operasi tersebut membutuhkan koordinasi dengan BNPB dan BMKG serta kondisi atmosfer yang memungkinkan.
Seno dijadwalkan meninjau langsung kondisi Berau untuk melihat kesiapan penanganan di lapangan. Sementara di Pendingin, petugas masih berjaga.






