Harga Minyak Dunia Melonjak Tajam, Tembus US$141/Barel

Rilismedia.co – Harga minyak mentah dunia kembali melonjak tajam setelah sempat mengalami penurunan signifikan sehari sebelumnya. Lonjakan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Refinitiv, harga minyak mentah Brent ditutup di level US$109,28 per barel pada Kamis (2/4/2026), naik 8,03%. Sebelumnya, harga sempat anjlok 14,5% pada perdagangan Rabu. Bahkan dalam perdagangan intraday, Brent sempat menyentuh US$109,74 per barel, menjadi level tertinggi sejak Juni 2022.

Bacaan Lainnya

Menurut laporan S&P Global, harga spot Brent bahkan sempat melonjak hingga US$141,36 per barel. Harga spot ini mencerminkan permintaan pengiriman minyak dalam 10–30 hari ke depan, yang saat ini menunjukkan kondisi pasokan fisik yang sangat ketat.

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh gangguan besar distribusi minyak global, terutama akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur ini merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Harga spot Brent tercatat sekitar US$32,33 lebih tinggi dibandingkan harga kontrak berjangkanya, menandakan tekanan pasokan jangka pendek yang sangat kuat.

Sementara itu, harga minyak jenis WTI juga mengalami lonjakan signifikan. WTI ditutup di posisi US$111,54 per barel, naik 11,41%, setelah sempat menyentuh US$114 per barel dalam perdagangan intraday. Kenaikan ini sekaligus memutus tren penurunan dua hari sebelumnya.

Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai harga kontrak berjangka saat ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan.

“Pasar finansial hampir menutupi kenyataan ketatnya pasokan yang sebenarnya terlihat di lapangan,” ujarnya.

Sen juga mengungkapkan bahwa harga diesel di Eropa saat ini telah mendekati US$200 per barel, menunjukkan tekanan besar pada sektor energi global.

Senada, CEO Chevron, Mike Wirth, sebelumnya memperingatkan bahwa harga futures belum mencerminkan dampak nyata dari gangguan pasokan akibat penutupan Selat Hormuz.

“Ada dampak fisik nyata dari penutupan Selat Hormuz yang menyebar ke seluruh dunia dan sistem energi, yang menurut saya belum sepenuhnya tercermin dalam kurva harga futures minyak,” ujarnya dalam konferensi energi CERAWeek di Houston.

Kenaikan harga minyak juga dipengaruhi oleh kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pidato nasionalnya memperingatkan kemungkinan agresi militer lanjutan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan.

Pernyataan tersebut meredam harapan de-eskalasi konflik dan mendorong lonjakan harga minyak.

Namun, harga sempat mengalami tekanan setelah kantor berita Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), melaporkan bahwa Iran tengah bekerja sama dengan Oman untuk menyusun protokol pemantauan jalur pelayaran di kawasan tersebut.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik yang tinggi membuat pasar tetap waspada, terutama terhadap potensi terganggunya distribusi minyak global dalam jangka panjang.

Pos terkait