KUTIM, Rilismedia.co— Sebanyak 512 Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menerima Tanda Kehormatan Satyalencana Karyasatya dalam agenda penganugerahan yang digelar di Gedung Serba Guna, Kawasan Pemerintahan Bukit Pelangi, Sangatta, Kamis (8/10/2026).
Penganugerahan tersebut diberikan berdasarkan masa pengabdian ASN, mulai dari 10 tahun, 20 tahun, hingga 30 tahun. Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman menyerahkan penghargaan secara simbolis kepada enam perwakilan penerima dalam kegiatan tersebut.
Rinciannya, 53 ASN memperoleh Satyalencana Karyasatya XXX Tahun karena telah mengabdi selama 30 tahun. Sebanyak 113 ASN menerima Satyalencana Karyasatya XX Tahun atas masa pengabdian 20 tahun. Sedangkan penerima Satyalencana Karyasatya X Tahun berjumlah 346 ASN dengan masa pengabdian 10 tahun.
Ardiansyah menyebut penganugerahan tersebut menjadi bentuk penghormatan pemerintah daerah kepada ASN yang telah menjalankan tugas dalam jangka waktu panjang. Penghargaan diberikan sebagai bentuk pengakuan terhadap dedikasi dan kesetiaan aparatur selama melaksanakan tanggung jawab kedinasan.
“Pemerintah Kabupaten Kutai Timur memberikan apresiasi kepada seluruh ASN yang telah menunjukkan kesetiaan dan pengabdian dalam menjalankan tugasnya,” kata Ardiansyah.
Namun, ia mengingatkan agar Satyalencana tidak berhenti dimaknai sebagai penghargaan atas lamanya seseorang bekerja sebagai ASN. Menurutnya, masa pengabdian yang panjang justru membawa tanggung jawab untuk mempertahankan kualitas kerja dan terus memberikan manfaat melalui pelaksanaan tugas.
Ardiansyah juga menyoroti peran ASN senior dalam membangun kapasitas aparatur yang lebih muda. Pengalaman yang terbentuk selama menjalankan tugas dinilai dapat menjadi modal untuk membimbing sekaligus memberi contoh dalam kehidupan birokrasi.
“ASN yang telah lebih dahulu menjalankan pengabdian memiliki kesempatan untuk meneruskan pengalaman dan nilai-nilai kerja kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Nilai tersebut, lanjut Ardiansyah, mencakup kedisiplinan, etika dalam bekerja, integritas, serta orientasi terhadap pelayanan publik. Hal itu dinilai penting agar pengalaman yang diperoleh selama bertugas tidak berhenti pada individu, tetapi turut memperkuat kualitas aparatur secara keseluruhan.
Ia pun meminta seluruh penerima Satyalencana menjadikan penghargaan tersebut sebagai penyemangat untuk meningkatkan kemampuan dan kinerja. Pengembangan kompetensi, inovasi dalam pekerjaan, serta konsistensi menjaga integritas dinilai perlu berjalan seiring dengan penghargaan atas masa pengabdian.
“Jangan jadikan penghargaan ini sebagai akhir dari pengabdian, tetapi sebagai dorongan untuk terus meningkatkan profesionalisme dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tandasnya. (Dit/adv/Kutim)






