KUTIM, Rilismedia.co — Sungai tak lagi hanya menjadi jalur air. Di Kutai Timur, alirannya disiapkan menjadi “panggung alam” tempat wisatawan menyaksikan satwa liar dari atas perahu. Konsep susur sungai menjadi salah satu daya tarik yang dikembangkan sebagai bagian dari destinasi dalam kawasan geopark.
Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata, Demmy Aditya Herwanto, menjelaskan wisata susur sungai masuk dalam lingkup pembinaan bidangnya. Pengembangannya melibatkan kelompok masyarakat sadar wisata yang memahami karakter sungai, kondisi air serta titik-titik kemunculan satwa.
Berbeda dari wisata buatan, pengalaman yang ditawarkan dalam susur sungai bergantung pada kondisi alam. Arah perjalanan dapat menyesuaikan tinggi-rendahnya permukaan air. Pengelola lokal menjadi unsur penting karena merekalah yang memahami jalur sekaligus lokasi yang berpotensi menjadi tempat wisatawan menjumpai satwa.
“Kalau airnya tinggi mereka naik ke atas, tapi kalau airnya turun, ke muara,” kata Demmy saat menjelaskan pola perjalanan susur sungai.
Salah satu tujuan utama perjalanan tersebut adalah mengamati satwa yang hidup di sekitar kawasan sungai. Demmy menyebut beberapa jenis satwa yang berpeluang dilihat wisatawan, antara lain bekantan, monyet dan lutung. Pengalaman mengamati satwa di habitatnya menjadi produk wisata yang berbeda dibandingkan destinasi pantai maupun wisata rekreasi lainnya.
“Tujuannya melihat hewan-hewan, bekantan, monyet, terus lutung,” ujarnya.
Menurut Demmy, susur sungai merupakan salah satu destinasi yang menjadi bagian dari geopark. Kawasan geopark sendiri mencakup banyak titik daya tarik, sehingga wisata sungai dapat dikembangkan sebagai salah satu pilihan dalam rangkaian perjalanan wisata di Kutai Timur.
Aktivitas ini juga membuka peluang bagi kelompok sadar wisata atau Pokdarwis. Pengetahuan warga mengenai sungai, perilaku satwa, kondisi pasang-surut serta keamanan perjalanan menjadi modal penting dalam membangun produk wisata berbasis alam.
Jika dikembangkan dengan baik, susur sungai berpotensi memberikan nilai ekonomi tanpa harus mengubah bentang alam secara besar-besaran. Masyarakat dapat terlibat sebagai operator perahu, pemandu, penyedia konsumsi maupun penyedia jasa lain yang dibutuhkan pengunjung.
Namun, karakter wisata pengamatan satwa juga membuat kelestarian lingkungan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Daya tarik utama perjalanan justru bergantung pada keberadaan satwa dan kualitas habitat di sepanjang sungai.
“Semakin terjaga ekosistemnya, semakin besar peluang wisatawan mendapatkan pengalaman melihat satwa liar secara alami,” katanya.
Konsep tersebut sejalan dengan arah pengembangan pariwisata Kutai Timur yang menempatkan masyarakat sebagai salah satu penggerak destinasi.
“Pemerintah tidak hanya membangun objek, tetapi juga membina kelompok masyarakat yang nantinya berinteraksi langsung dengan wisatawan,” terangnya.
Susur sungai pada akhirnya menambah variasi produk wisata Kutai Timur di samping pantai, pulau dan desa wisata.
“Keberadaan bekantan, lutung serta satwa lainnya menjadi kekuatan yang tidak dapat dibuat secara artifisial,” tuturnya.
Dengan pengelolaan yang memperhatikan keselamatan, kelestarian habitat dan keterlibatan masyarakat, wisata susur sungai berpeluang menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan kekayaan alam geopark Kutai Timur sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi warga di sekitar kawasan. (Dit/ADV/KUTIM).






