Mulyono Pastikan SITISEK Bukan Seremonial

Kutai Timur, Rilismedia.co — Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Mulyono, menegaskan bahwa program Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) dirancang sebagai alat kerja nyata, bukan kegiatan seremonial yang hanya berhenti pada peluncuran, hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan resmi di Hotel Royal Victoria, Sangatta Utara, Jumat (21/11).

Mulyono menjelaskan bahwa, tingginya angka lebih dari 13 ribu ATS menjadi dasar penyusunan SITISEK.

Bacaan Lainnya

Program ini didesain dengan mengedepankan pemetaan wilayah, verifikasi data menyeluruh, dan strategi intervensi yang menyesuaikan kondisi di setiap kecamatan.

“Pendidikan adalah hak fundamental. Jika ribuan anak tidak sekolah, berarti ada hak yang belum terpenuhi. SITISEK hadir sebagai alat intervensi, bukan sekadar formalitas,” ujarnya.

Dalam implementasinya, SITISEK melibatkan berbagai instansi seperti Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, hingga Pemerintah Kecamatan dan Desa.

Setiap sektor memiliki fungsi yang saling menguatkan, seperti penyelesaian masalah ekonomi keluarga, pengurusan dokumen kependudukan, hingga pendampingan sosial.

Mulyono juga menyoroti pentingnya validasi langsung di lapangan, dan banyak kasus ATS disebabkan administrasi tidak lengkap atau perpindahan tempat tinggal yang tidak tercatat.

Karena itu, data harus dibersihkan dan diverifikasi secara menyeluruh sebelum intervensi dilakukan.

Program ini menyasar semua kelompok usia pendidikan, dari PAUD hingga remaja usia sekolah menengah. SITISEK, kata Mulyono, akan menjadi acuan kerja hingga 2025, dengan target penurunan signifikan jumlah ATS.

“Kami ingin memastikan setiap anak yang terdaftar mendapat solusi. SITISEK adalah kerja nyata yang langsung menyentuh akar persoalan,” tukasnya. (Adv-Diskominfo Kutim/Andika)

Pos terkait