Kutai Timur, Rilismedia.co — Kepala UPT Kebersihan Sangatta Utara, Jurianto, menegaskan bahwa metode komposting adalah langkah paling realistis untuk menekan tingginya timbulan sampah rumah tangga di Kutai Timur (Kutim).
Ia menyampaikan hal tersebut dalam sesi sosialisasi bertema Composting, yang digelar bagi masyarakat dan perwakilan lingkungan RT.
Dalam paparannya, Jurianto menyebut bahwa sekitar 50 persen sampah di dua kecamatan padat penduduk, Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, bersumber dari rumah tangga dan didominasi sampah organik.
Ia mengatakan bahwa, kondisi ini membuat fasilitas pengolahan kewalahan karena sampah yang masuk hampir seluruhnya tercampur antara organik dan anorganik.
“Masalahnya bukan hanya jumlah sampah, tetapi kebiasaan kita yang belum memilah sejak di rumah,” ujar Jurianto.
Ia kemudian menambahkan secara tidak langsung, bahwa masyarakat masih menganggap pemilahan sampah sebagai sesuatu yang merepotkan, padahal manfaatnya sangat besar bagi lingkungan.
Berdasarkan data DLH Kutim, total timbulan sampah mencapai 81.915 ton per tahun atau setara 224 ton per hari.
Minimnya pemilahan membuat beban TPST dan TPA meningkat, dan karena itu, UPT Kebersihan menilai komposting di tingkat rumah tangga dapat mengurangi puluhan kilogram sampah organik per bulan.
Dalam demonstrasi teknis, Jurianto menjelaskan langkah pembuatan kompos menggunakan sisa sayur, nasi, serta larutan EM4.
“Metode ini mudah, murah, dan bisa dilakukan siapa saja. Tidak memerlukan alat mahal,” Katanya.
Ia kemudian menjelaskan bahwa kompos yang dihasilkan dapat dipakai, untuk tanaman atau bahkan dijual sebagai produk bernilai ekonomis.
Menurutnya, masyarakat harus mulai memandang sampah sebagai sumber daya.
“Jika dikelola, sampah organik adalah material berguna, bukan beban,” ucapnya.
UPT Kebersihan berharap, metode komposting dapat diterapkan luas sebagai solusi cepat mengurangi ketergantungan pada TPA Batota, yang selama ini menjadi penumpukan akhir sampah daerah.
“Komposting adalah langkah kecil dengan dampak besar. Jika setiap rumah tangga melakukannya, Kutai Timur bisa mengurangi sampah secara signifikan tanpa harus menunggu fasilitas besar dibangun,” tutupnya. (Adv-Diskominfo Kutim/Saif)






