Rilismedia.co – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto, menyatakan dukungannya terhadap usulan Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, agar United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dievaluasi menyeluruh demi keselamatan prajurit.
Anton menilai langkah evaluasi, termasuk opsi penarikan pasukan, merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi personel TNI yang bertugas di luar negeri.
“Pasukan Indonesia hadir bukan untuk berperang, melainkan untuk menjaga stabilitas dan mendukung proses perdamaian di kawasan konflik. Pasukan perdamaian seharusnya hadir di area post-conflict, bukan saat terjadinya konflik,” kata Anton, Senin (6/4).
Ia menyebut usulan tersebut muncul di tengah memanasnya konflik di wilayah Lebanon Selatan, lokasi penugasan pasukan UNIFIL. Menurutnya, situasi yang semakin tidak kondusif perlu menjadi dasar evaluasi serius, terlebih setelah gugurnya tiga prajurit TNI.
“Oleh karena itu, dalam konteks ini, saya sejalan dengan pandangan Presiden Republik Indonesia ke-6, bapak Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa dengan adanya situasi yang semakin tidak kondusif di wilayah penugasan UNIFIL, hal ini perlu dievaluasi secara serius,” ujarnya.
Anton juga mendorong langkah konkret seperti pemindahan lokasi tugas ke wilayah yang lebih aman atau bahkan penghentian sementara misi.
“Tindakan tegas sebagai bentuk pengutamaan keselamatan prajurit perlu segera dilakukan, seperti pemindahan lokasi penugasan ke wilayah yang lebih aman atau penghentian sementara misi demi menjamin keselamatan prajurit kita,” sambungnya.
Ia menambahkan, dalam prinsip hukum humaniter internasional, pasukan penjaga perdamaian harus dilindungi dan tidak boleh menjadi sasaran konflik bersenjata. Oleh karena itu, pemerintah diminta turut mengevaluasi keterlibatan TNI dalam misi tersebut.
“Oleh karena itu, langkah evaluasi menyeluruh terhadap keberlanjutan misi, pemindahan lokasi, termasuk opsi penarikan pasukan, merupakan bentuk tanggung jawab negara dalam melindungi warganya yang bertugas di luar negeri,” pungkasnya.
Sebelumnya, SBY menyampaikan duka cita atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi penjaga perdamaian di Lebanon. Ia menilai kondisi di lapangan sudah tidak lagi sesuai dengan mandat peacekeeper yang seharusnya berada di wilayah pascakonflik, bukan zona pertempuran aktif.
SBY juga menyoroti bahwa pasukan berada di kawasan “Blue Line”, wilayah pemisah antara Israel dan Lebanon, yang kini dinilai semakin berbahaya karena eskalasi konflik.
“Dengan argumentasi ini, seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” jelasnya.






