Kutai Timur, Rilismedia.co— Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) memperkuat sistem pembinaan pertanian melalui kinerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang kini menangani 8 hingga 10tani secara rutin. Selain pendampingan teknis, PPL juga bertugas memastikan seluruh kelompok terdaftar dalam SIM-Luhtan, sistem nasional yang menjadi dasar pengesahan kelompok tani sekaligus acuan utama penyaluran program bantuan pemerintah.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, menyebutkan bahwa SIM-Luhtan merupakan instrumen penting yang menjamin ketertiban data. Kelompok yang tidak terdaftar dalam sistem otomatis dianggap tidak aktif dan tidak dapat diikutsertakan dalam program pembinaan.
“Kami harus pastikan data valid. Kalau tidak masuk sistem, kelompok itu tidak bisa menerima bantuan,” ujarnya.
Tantangan lapangan cukup besar, terutama karena Kutim memiliki wilayah yang luas. Beberapa PPL bertugas di daerah pesisir dengan akses terbatas, sementara lainnya membina kelompok tani di kawasan pedalaman.
Meski menghadapi jarak tempuh yang panjang, Dyah memastikan para PPL tetap menjalankan pendampingan dengan baik sesuai wilayah kerja masing-masing.
Pendampingan meliputi penguatan teknik budidaya, pengendalian hama terpadu, penggunaan teknologi pertanian, hingga pengelolaan alsintan.
Seluruh aktivitas pendampingan dilaporkan secara digital, untuk mempercepat monitoring dan evaluasi program.
Kelompok yang aktif akan diutamakan dalam menerima bantuan Pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas.
Dyah menegaskan bahwa, Pemerintah daerah tidak segan menonaktifkan kelompok tani yang tidak berjalan.
Langkah ini dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan data, serta memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran.
“Setiap tahun Kami lakukan pembaruan, dan Kelompok yang tidak aktif langsung dinonaktifkan dari SIM-Luhtan,” ungkapnya.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah desa, penyuluh, dan kelompok tani semakin erat, dan dengan data SIM-Luhtan yang akurat, perencanaan program bisa lebih efisien dan pembangunan pertanian dapat berlangsung lebih terarah.
“Akurasi data menjadi kunci peningkatan produksi pertanian Kutim,” tandasnya. (Adv-Diskominfo Kutim/Andika)






