Kutai Timur, Rilismedia.co — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menaruh perhatian besar pada sektor infrastruktur strategis melalui usulan Multiyears Contract (MYC) 2026–2028.
Dari 32 paket pembangunan yang diajukan, pembangunan pelabuhan menjadi proyek dengan nilai tertinggi, ditaksir mencapai Rp 200 miliar.
Besarnya nilai tersebut, menempatkan pelabuhan sebagai salah satu proyek yang digadang-gadang memiliki dampak ekonomi paling luas bagi masyarakat.
Kepala Bappeda Kutim, Noviari Noor, menyampaikan bahwa pembangunan pelabuhan ini disusun untuk menjawab kebutuhan logistik wilayah pesisir dan Kecamatan, yang selama ini mengandalkan transportasi darat dengan keterbatasan jarak maupun kondisi jalan.
Menurutnya, pelabuhan bukan hanya infrastruktur pelengkap, tetapi fondasi baru bagi percepatan aktivitas perdagangan di Kutai Timur.
“Pelabuhan ini kita harapkan bisa beroperasi pada 2027. Tahun-tahun awal akan fokus menyelesaikan sisi darat sebagai penunjang utama,” kata Noviari usai menghadiri hearing bersama DPRD Kutim, Kamis (13/11/2025).
Pembangunan sisi darat yang dimaksud mencakup fasilitas tambatan kapal, area bongkar muat, gedung operasional, kantor pengelola, hingga sarana penunjang aktivitas pelayanan kapal dan barang.

Menurut perencanaannya, pekerjaan sisi darat akan menjadi fondasi agar proses konstruksi lanjutan dapat berjalan lebih cepat pada fase berikutnya.
Noviari menjelaskan bahwa pelabuhan menjadi kebutuhan vital bagi Kutai Timur yang wilayahnya luas, memiliki pusat pertumbuhan yang tersebar, dan aktivitas ekonomi banyak bertumpu pada komoditas seperti perkebunan, perikanan, hingga tambang.
Dengan hadirnya pelabuhan yang representatif, arus perdagangan diyakini akan lebih lancar, biaya logistik lebih efisien, serta membuka akses pasar ke wilayah lain.
“Pemerintah menilai bahwa investasi strategis seperti ini sangat diperlukan untuk mendorong daya saing daerah,” tegasnya.
Tak hanya menopang aktivitas bongkar muat, pelabuhan juga diproyeksikan tumbuh menjadi pusat ekonomi baru.
Aktivitas usaha di sekitar kawasan, potensi lapangan kerja, hingga bertambahnya pergerakan barang diperkirakan memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, Pemkab Kutim kini menunggu pembahasan lanjutan bersama DPRD untuk memastikan kesiapan anggaran dan teknis.
Jika disetujui, proyek pelabuhan Rp 200 miliar ini akan menjadi salah satu tonggak pembangunan besar dalam periode MYC 2026–2028.
“Kita ingin pelabuhan ini menjadi simpul baru pertumbuhan ekonomi bagi Kutai Timur,” pungkas Noviari. (Adv-Diskominfo Kutim/andika)






