Pantai Marang Dibidik Jadi Lokasi Gathering Perusahaan

KUTIM, Rilismedia.co — Pantai bukan hanya perkara pasir dan panorama. Di Kutai Timur, Pantai Marang tengah diarahkan menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kebutuhan rekreasi perusahaan dengan kepentingan ekonomi masyarakat sekitar. Pemerintah daerah berharap kegiatan perusahaan tambang maupun perkebunan tidak selalu digelar di luar Kutai Timur.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata, Demmy Aditya Herwanto, mengatakan Pantai Marang mempunyai posisi yang cukup strategis karena wilayah desa di sekitarnya bersinggungan dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit dan pertambangan batu bara. Kondisi tersebut membuka pasar wisata yang tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga pekerja dan perusahaan.

Menurut dia, sejumlah perusahaan telah memanfaatkan destinasi wisata tersebut untuk menggelar kegiatan secara berkala. Gathering hingga pertemuan internal perusahaan menjadi pasar yang ingin terus diperkuat karena mampu mendatangkan pengunjung sekaligus menggerakkan belanja di tingkat lokal.

“Harapannya kegiatan MICE ini, meeting, incentive, convention, exhibition, untuk perusahaan yang skala kecil ini jangan lagi keluar,” kata Demmy saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Demmy menilai potensi ekonomi wisata tidak tepat apabila hanya dihitung dari besarnya retribusi yang diterima pemerintah. Tarif masuk destinasi mungkin hanya berada pada kisaran beberapa ribu rupiah per pengunjung, tetapi uang yang beredar setelah wisatawan memasuki kawasan jauh lebih besar.

“Pengunjung membutuhkan makanan dan minuman, tempat beristirahat, jasa transportasi serta berbagai kebutuhan lainnya. Belanja tersebut dapat langsung diterima masyarakat yang membuka usaha di sekitar destinasi,” tuturnya.

Ia mencontohkan perubahan yang dialami salah seorang pedagang di kawasan Pantai Marang. Sebelum jumlah pengunjung berkembang, pedagang tersebut hanya mampu menjual sekitar dua hingga tiga porsi makanan. Seiring meningkatnya aktivitas wisata, penjualan ikut berkembang.

“Bagi pemerintah, perubahan pada pendapatan masyarakat semacam itulah yang menjadi salah satu indikator penting dari pembangunan pariwisata,” imbuhnya.

Konsep tersebut membuat pengembangan Pantai Marang tidak hanya diarahkan untuk menarik wisatawan dari luar daerah. Pasar dari dalam Kutai Timur justru dipandang penting, terutama mengingat keberadaan perusahaan pertambangan dan perkebunan dengan jumlah tenaga kerja yang besar.

Selain kegiatan gathering, pemerintah berharap berbagai agenda perusahaan yang memungkinkan dilaksanakan di destinasi wisata dapat dialihkan ke dalam daerah.

“Semakin banyak kegiatan berlangsung di Kutai Timur, semakin besar peluang uang perusahaan dan pekerja beredar di sektor usaha lokal,” imbuhnya.

Demmy juga mengaitkan geliat sektor wisata dan hiburan dengan penerimaan daerah. Namun, ia menekankan bahwa manfaat pariwisata tidak berhenti pada penerimaan pemerintah.

“Efek ekonomi kepada masyarakat menjadi sasaran yang lebih luas karena melibatkan pedagang, pengelola destinasi hingga pelaku jasa,” terangnya.

Strategi tersebut sekaligus menjadi jawaban atas keterbatasan Kutai Timur dalam bersaing dengan destinasi yang telah memiliki daya tarik visual kuat. Alih-alih hanya mengejar wisatawan dari luar, pemerintah mencoba membangun pasar yang telah tersedia di depan mata, yakni masyarakat serta ribuan pekerja perusahaan yang berada di Kutai Timur.

Dengan memperkuat fasilitas dan pengelolaan destinasi seperti Pantai Marang, pemerintah berharap kegiatan perusahaan semakin banyak dilaksanakan di daerah sendiri. Jika berlangsung konsisten, aktivitas wisata tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya usaha masyarakat sekaligus memperluas perputaran ekonomi di sekitar destinasi. (Dit/ADV/GOnews.id).

Pos terkait