SAMARINDA, Rilismedia.co — Festival Keraton Kainmas di Jalan Anggur, Samarinda, resmi dibuka pada Senin, 24 Agustus 2026. Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, hadir sekaligus membuka kegiatan tersebut.
Kehadiran legislator itu menempatkan festival bukan sekadar agenda hiburan masyarakat. Keraton Kainmas merupakan wadah yang menghimpun keluarga besar Buton Lapandewa Kaindea Matanasurumba di Samarinda.
Organisasi tersebut sebelumnya terbentuk dari penyatuan dua paguyuban masyarakat Buton. Dalam pengukuhan pengurus pada 2025, Keraton Kainmas disebut diharapkan menjadi ruang yang memperkuat komunikasi dan koordinasi masyarakat Buton dengan pemerintah.
Festival yang digelar di Jalan Anggur itu menjadi bagian dari upaya menjaga ruang kebudayaan dan kebersamaan warga Buton di Samarinda.
Bagi Ismail, kehadiran di tengah kegiatan masyarakat juga menjadi bagian dari hubungan antara wakil rakyat dan komunitas yang berkembang di Kota Tepian.
Keraton Kainmas sendiri tidak berdiri hanya sebagai organisasi sosial. Pada kegiatan sebelumnya, keberadaan masyarakat Buton di Samarinda juga dikaitkan dengan kontribusi mereka dalam berbagai bidang pembangunan, termasuk pendidikan dan pemerintahan.
Karena itu, keberlanjutan kegiatan kebudayaan semacam festival memiliki arti lebih luas. Selain menjaga tradisi, kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal identitas budaya leluhurnya di tengah perkembangan Samarinda sebagai kota yang semakin beragam.
Ismail sebelumnya juga tercatat aktif mendorong pengembangan kegiatan berbasis budaya dan pariwisata di Samarinda. Ia pernah mengusulkan festival di kawasan Bukit Steling dengan mengangkat kearifan lokal masyarakat sebagai daya tarik wisata.
Festival Keraton Kainmas kali ini setidaknya menunjukkan satu hal: kebudayaan tidak hanya hidup di ruang-ruang formal. Ia tumbuh melalui kegiatan masyarakat dan organisasi yang menjaga identitas komunitasnya.
Tantangannya kemudian bukan sekadar seberapa meriah festival digelar, melainkan apakah ruang-ruang kebudayaan tersebut mampu terus diwariskan kepada generasi berikutnya dan menjadi bagian dari wajah Samarinda.






