65 Bank Sampah Aktif di Kukar, Sampah Jadi Sumber Ekonomi

TENGGARONG, Rilismedia.co — Sampah yang selama ini identik dengan sesuatu yang harus dibuang ternyata masih memiliki nilai ekonomi. Hal itu terlihat dari keberadaan puluhan bank sampah yang tetap berjalan di berbagai wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, Tri Joko Kuncoro, menyebut saat ini terdapat sekitar 65 bank sampah aktif yang tersebar di 20 kecamatan.

Bacaan Lainnya

Keberadaan bank sampah tersebut terus didorong agar masyarakat memiliki alternatif dalam mengelola sampah dari tingkat lingkungan.

Tri Joko mengatakan, bank sampah memiliki pola kerja yang relatif sederhana. Masyarakat mengumpulkan sampah yang masih memiliki nilai jual, kemudian memilahnya berdasarkan jenis sebelum dijual.

“Selama ini mereka survive saja. Karena kan ibaratnya mereka itu tidak keluar modal. Kan hanya mengumpulkan sampah, memilah sampah dan itu langsung mereka jual,” kata Tri Joko usai menghadiri Rakor LPTQ di Kantor LPTQ, Jalan Jelawat, Kamis (15/10).

Menurutnya, pola tersebut menunjukkan bahwa sampah tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan pemilahan dan pengelolaan yang tepat, sebagian sampah dapat kembali memiliki nilai ekonomi.

Karena itu, DLHK Kukar terus mendorong agar bank sampah tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi berkembang sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah.

Tri Joko juga berharap dukungan terhadap pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui tingkat RT. Anggaran RT, menurutnya, dapat menjadi salah satu sumber dukungan untuk mengembangkan kegiatan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

Dorongan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini lebih banyak menggunakan pola kumpulkan, angkut, dan buang.

Pola itu dinilai belum cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah karena hanya memindahkan sampah dari lingkungan permukiman menuju lokasi pembuangan.

Sebaliknya, masyarakat didorong menerapkan pola memilah, mengolah, dan menjual, sehingga sampah yang masih memiliki nilai dapat dipisahkan sejak dari sumbernya.

“Pada dasarnya semua sampah itu masih bernilai ekonomis, bernilai jual dan bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Keberadaan bank sampah juga diharapkan dapat membantu mengurangi beban tempat pemrosesan akhir (TPA). Semakin banyak sampah yang dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali, semakin sedikit pula sampah yang harus berakhir di tempat pembuangan akhir.

Dengan puluhan bank sampah yang telah aktif, DLHK Kukar kini terus mendorong perluasan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Harapannya, sampah tidak lagi dipandang sekadar sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai potensi ekonomi yang bisa dikelola bersama.

Pos terkait