Mahyunadi: Kerukunan Jadi Modal Pembangunan Kutim

KUTIM, Rilismedia.co — Wakil Bupati Kutai Timur (Kutim) Mahyunadi meresmikan Pastori Gereja Toraja Jemaat Marendeng di Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara. Di tengah kemajuan infrastruktur daerah, ia mengingatkan bahwa kerukunan dan kualitas sumber daya manusia harus tumbuh seiring pembangunan fisik.

Pesan tersebut disampaikan Mahyunadi dalam rangkaian Ibadah Syukur Tahunan sekaligus peresmian pastori, Sabtu (5/9/2026). Pastori berupa bangunan permanen dua lantai itu dibangun secara bertahap selama sekitar lima tahun dan nantinya berfungsi sebagai rumah jabatan pendeta sekaligus menunjang pelayanan terhadap jemaat Gereja Toraja Jemaat Marendeng.

Menurut Mahyunadi, keberadaan bangunan baru bagi jemaat patut disyukuri. Namun, keberhasilan pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari jumlah gedung, jalan, maupun fasilitas publik yang berhasil diwujudkan. Pembangunan manusia, katanya, menjadi fondasi yang menentukan keberlanjutan kemajuan daerah.

“Kerukunan dan toleransi ini harus terus kita jaga. Kalau masyarakatnya rukun, saling menghargai dan hidup berdampingan dengan baik, maka pembangunan akan lebih mudah kita jalankan,” ujar Mahyunadi.

Ia menilai kondisi masyarakat yang aman, damai, dan saling menghormati merupakan modal sosial yang sangat penting. Di wilayah dengan latar belakang masyarakat yang beragam seperti Kutai Timur, kebersamaan menjadi kekuatan agar program pemerintah maupun aktivitas ekonomi dapat berlangsung tanpa gangguan.

Mahyunadi juga mengingatkan masyarakat agar tidak memandang perdamaian sebagai sesuatu yang otomatis akan selalu terjaga. Ia menyinggung konflik dan peperangan yang terjadi di berbagai negara sebagai gambaran betapa mahalnya harga sebuah kerukunan ketika sudah hilang.

“Kita jangan sampai menganggap kerukunan itu sesuatu yang biasa. Ketika sebuah bangsa dilanda konflik dan perang, yang paling menderita adalah rakyatnya. Karena itu, mari kita jaga Kutai Timur agar tetap aman, damai dan kondusif,” pesannya.

Menurutnya, konflik bukan hanya merusak hubungan sosial. Kondisi tersebut juga dapat menghentikan kegiatan ekonomi, menghambat investasi, mengganggu pelayanan masyarakat, hingga memperlambat pembangunan. Karena itu, pemerintah dan masyarakat memiliki kepentingan yang sama dalam merawat suasana kondusif.

Mahyunadi turut mendorong para pemuka agama dan pendeta agar terus berperan aktif dalam pembinaan masyarakat. Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam menanamkan nilai moral, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, serta penghormatan terhadap perbedaan.

Ia menilai gereja dan lembaga keagamaan lainnya memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan masyarakat. Pembinaan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membentuk sumber daya manusia berkarakter, sekaligus memperkuat kehidupan sosial yang harmonis.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Pastori Gereja Toraja Jemaat Marendeng, Mike Paembonan, menjelaskan bangunan tersebut memiliki ukuran sekitar 9 x 20 meter. Pembangunannya berlangsung sekitar lima tahun dengan total biaya kurang lebih Rp2,3 miliar.

Dana pembangunan diperoleh dari berbagai sumber. Selain dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur, pembangunan juga ditopang program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR, termasuk dari PT Kaltim Prima Coal, serta sumbangan dan partisipasi warga jemaat.

“Pembangunan Pastori ini kurang lebih berlangsung selama lima tahun. Total anggaran yang digunakan sekitar Rp2,3 miliar. Ini adalah hasil kebersamaan, ada dukungan pemerintah, perusahaan melalui CSR dan juga partisipasi dari warga jemaat,” jelas Mike.

Pastori itu akan menjadi rumah jabatan pendeta dan fasilitas penunjang kegiatan pelayanan bagi sekitar 180 kepala keluarga yang tergabung dalam Gereja Toraja Jemaat Marendeng. Kehadirannya diharapkan membuat kegiatan pelayanan dan pembinaan jemaat dapat berjalan semakin baik.

Bagi Mahyunadi, semangat gotong royong di balik pembangunan pastori merupakan nilai yang perlu terus dirawat. Kolaborasi pemerintah, perusahaan, tokoh agama, dan masyarakat dinilai menjadi contoh bahwa pembangunan dapat berjalan lebih kuat ketika dilandasi kebersamaan.

Ia menegaskan bahwa pembangunan fisik mempunyai titik selesai, sedangkan pembangunan karakter, toleransi, dan persaudaraan merupakan pekerjaan jangka panjang. Karena itu, kemajuan Kutai Timur pada akhirnya tidak hanya tercermin dari megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan masyarakatnya untuk hidup damai, menghargai perbedaan, dan bersama-sama menjaga daerah tetap kondusif. (Dit/ADV/Kutim).

Pos terkait