Kutim Hadapi Lonjakan ATS Tertinggi di Kaltim, Disdikbud Tetapkan SITISEK sebagai Agenda Darurat Pendidikan

Kutai Timur, Rilismedia.co — Tingginya jumlah Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini menjadi perhatian serius Pemerintah Daerah.

Berdasarkan pemetaan awal tahun 2025, Kutim tercatat memiliki lebih dari 13 ribu anak yang tidak bersekolah, menjadikannya angka tertinggi di Kalimantan Timur.

Bacaan Lainnya

Kondisi ini, dipandang sebagai ancaman bagi masa depan generasi muda, sekaligus indikator bahwa pemerataan layanan pendidikan masih membutuhkan percepatan.

Dalam merespons situasi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim memperkuat agenda strategis, melalui peluncuran Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK).

Program ini menjadi landasan untuk memetakan, menelusuri, dan mengintervensi kasus ATS secara terukur dan berbasis data.

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa tingginya angka ATS tersebut bukan hanya persoalan statistik, melainkan ancaman terhadap hak-hak dasar anak.

Ia menyebut, Pemerintah Daerah tidak bisa membiarkan ribuan anak berada di luar sekolah, ketika kewajiban negara adalah memastikan hak pendidikan terpenuhi.

“Ketika kita berbicara lebih dari 13 ribu anak tidak sekolah, itu bukan sekadar angka. Itu adalah masa depan yang sedang terancam. Karena itu, SITISEK menjadi agenda darurat pendidikan yang harus segera dijalankan dengan pendekatan kolaboratif,” ujar Mulyono disela kegiatan peluncuran program tersebut, Jum’at (21/11/2025).

Ia menjelaskan bahwa SITISEK dibangun dari proses pengumpulan data lapangan, verifikasi, dan analisis yang melibatkan sekolah, pemerintah kecamatan, serta perangkat desa.

“Data yang akurat adalah kunci, dan Kita tidak ingin bekerja dengan angka perkiraan. Penanganan ATS harus berbasis fakta di lapangan,” kata Mulyono menegaskan.

Selain penekanan pada pemetaan, SITISEK juga didesain sebagai instrumen koordinasi lintas sektor. Disdikbud menggandeng Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, serta tokoh masyarakat untuk memastikan setiap anak yang teridentifikasi ATS, akan mendapat intervensi sesuai kebutuhan masing-masing.

Menurut Mulyono, penyebab ATS di Kutim cukup beragam, mulai dari faktor ekonomi, kondisi geografis, hingga rendahnya kesadaran orang tua.

Ia menyebut bahwa tantangan terbesar justru berada pada wilayah terpencil yang akses pendidikannya masih terbatas.

“Ada anak yang ingin sekolah, tetapi fasilitasnya jauh. Ada juga yang harus membantu orang tua bekerja. Situasi seperti ini membutuhkan solusi case by case,” jelasnya.

Dengan penguatan SITISEK, Disdikbud menargetkan penurunan signifikan angka ATS pada 2025, dan Mulyono memastikan bahwa langkah tersebut adalah komitmen, bukan sekadar program.

“Kami tidak boleh membiarkan satu pun anak tertinggal. Pendidikan adalah pondasi Kutai Timur, dan SITISEK adalah salah satu pintu untuk memastikan semua anak kembali bersekolah,” pungkasnya. (Adv-Diskominfo Kutim/Andika)

Pos terkait