Ketimpangan Fasilitas Jadi Tantangan Literasi Samarinda, DPRD: Keluarga Kunci Utama

SAMARINDA, Rilismedia.co — Peningkatan budaya literasi di Kota Samarinda masih dihadapkan pada persoalan mendasar, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga belum meratanya kualitas layanan perpustakaan di tiap jenjang pendidikan. Namun di balik itu, peran keluarga dinilai tetap menjadi faktor penentu yang tidak tergantikan.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai upaya penguatan literasi tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah atau institusi pendidikan. Ia menegaskan keterlibatan keluarga menjadi fondasi awal dalam membentuk kebiasaan membaca.

“Kalau bicara literasi, sebenarnya titik awalnya ada di rumah. Orang tua punya peran besar dalam membiasakan anak untuk membaca,” ujarnya, Rabu (17/6).

Ia mengakui, dari sisi fasilitas, perpustakaan di tingkat kota masih jauh tertinggal dibandingkan milik pemerintah provinsi maupun pusat. Keterbatasan koleksi buku dan ragam bacaan menjadi kendala utama dalam menarik minat masyarakat.

“Jumlah buku dan variasinya masih minim. Ini yang membuat akses literasi kita belum maksimal,” katanya.

Di lingkungan sekolah, kondisi tersebut perlahan mulai mengalami perubahan. Perpustakaan tidak lagi diposisikan sebagai ruang pelengkap, melainkan mulai dijadikan bagian penting dari sistem pembelajaran.

Menurutnya, sejumlah sekolah telah berupaya memperbaiki tata kelola perpustakaan, termasuk menempatkannya di lokasi yang lebih strategis agar mudah dijangkau siswa.

“Sekarang sudah mulai berubah. Perpustakaan harus jadi ruang yang nyaman dan mendukung proses belajar,” jelasnya.

Meski demikian, pemerataan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah. Ia menyebut sekolah tingkat SMA relatif lebih siap dari segi sarana, sementara banyak SD dan SMP masih menghadapi keterbatasan, terutama ruang baca.

“Kondisinya belum merata. Banyak sekolah yang masih terkendala ruang dan fasilitas,” ungkapnya.

Tak hanya infrastruktur, kekurangan tenaga pustakawan juga menjadi tantangan tersendiri. Minimnya SDM membuat pengelolaan perpustakaan belum berjalan optimal, baik di sekolah maupun fasilitas milik pemerintah daerah.

“Jumlah pustakawan kita masih sangat terbatas, ini juga mempengaruhi kualitas layanan,” katanya.

Sri Puji menambahkan, literasi seharusnya dipahami secara lebih luas, tidak sekadar membaca buku. Kemampuan memahami informasi, mengamati lingkungan, hingga belajar dari pengalaman sehari-hari juga termasuk bagian dari literasi.

“Literasi itu bagaimana kita bisa memahami dan mengambil pelajaran dari apa yang kita lihat dan alami,” ujarnya.

Meski berbagai upaya terus dilakukan, ia kembali menegaskan bahwa keberhasilan membangun budaya literasi tetap bergantung pada kebiasaan yang ditanamkan di lingkungan keluarga.

“Kalau di rumah tidak dibiasakan, akan sulit. Orang tua harus memberi contoh, bukan hanya fokus pada gawai,” pungkasnya.

Pos terkait