TENGGARONG, Rilismedia.co – Ketersediaan air bersih di Kecamatan Samboja Barat dan sekitarnya menghadapi tekanan serius. Debit sumber air baku di Sungai Merdeka terus menyusut hingga area genangan yang masih menyimpan air diperkirakan hanya tersisa sekitar lima hektare.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) bersama Perumda Tirta Mahakam menyiapkan langkah penanganan. Salah satu opsi yang menjadi perhatian adalah normalisasi dan pendalaman tampungan air untuk meningkatkan kapasitas cadangan air baku.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, turun langsung meninjau kondisi intake sumber air baku di Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja Barat. Peninjauan dilakukan bersama Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, beserta jajaran terkait.
Rendi menilai penyusutan debit air tersebut menjadi persoalan yang harus segera diantisipasi. Sebab, keberadaan sumber air baku Sungai Merdeka berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di kawasan Samboja Barat dan Muara Jawa.

“Kita berada di Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja Barat, untuk meninjau lokasi intake sumber air baku di wilayah perbatasan Samboja dan Muara Jawa. Ini menjadi kekhawatiran kita semua, terutama terkait ketersediaan air bersih. Mudah-mudahan kondisi segera membaik dan hujan kembali turun,” ujar Rendi dalam keterangannya, Senin (02/11).Persoalan yang dihadapi bukan sekadar penurunan permukaan air. Kapasitas tampungan yang semakin terbatas membuat upaya menjaga keberlangsungan produksi air bersih membutuhkan penanganan lebih serius.
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, mengungkapkan luas genangan yang masih menyimpan air saat peninjauan hanya sekitar lima hektare. Padahal, pengerjaan pendalaman menggunakan alat berat sebelumnya telah dilakukan.
“Area yang kita duduki hari ini, genangannya hanya sekitar lima hektare yang masih memiliki air. Kemarin sudah dilakukan pendalaman menggunakan alat berat, tetapi kondisi yang tersisa saat ini memang hanya sekitar lima hektare,” ungkap Suparno.
Menurutnya, normalisasi kawasan tampungan menjadi kebutuhan mendesak agar ketersediaan air baku dapat dipertahankan. Pekerjaan tersebut diharapkan tidak hanya membantu operasional intake, tetapi juga memperbesar kapasitas penyimpanan air untuk pelayanan masyarakat.

“Pertama, memang harus dilakukan normalisasi induk yang nantinya dapat melayani Samboja Barat dan sekitarnya,” katanya.
Suparno juga menilai pendalaman setidaknya dua meter dari kondisi kedalaman saat ini perlu dipertimbangkan. Dengan kapasitas tampungan yang lebih besar, sumber air diharapkan memiliki cadangan lebih memadai ketika debit sungai kembali menurun.
“Memang tidak ada alternatif lain selain menyiapkan tampungan air untuk memberikan pelayanan. Karena kondisinya sedang surut, paling tidak perlu dilakukan pendalaman sekitar dua meter dari kedalaman sekarang. Dengan begitu, kapasitas tampungan air diharapkan bisa lebih besar,” jelasnya.
Gambaran tekanan terhadap pelayanan air bersih di Samboja juga terlihat dari penurunan kapasitas produksi Perumda Tirta Mahakam.
Dikabarkan sebelumnya, kapasitas produksi air di Cabang Samboja dilaporkan turun dari kondisi normal sekitar 90 liter per detik menjadi 50–52 liter per detik. Artinya, terjadi pengurangan produksi sekitar 38–40 liter per detik.
Dampaknya berpotensi dirasakan sekitar 4.809 sambungan pelanggan, terutama masyarakat yang berada di ujung jaringan distribusi dan kawasan dengan elevasi lebih tinggi.
Persoalan lain muncul akibat masuknya air laut ke sumber air baku Instalasi Pengolahan Air (IPA) Gunung Pasir. Kadar garam di sumber air tersebut dilaporkan mencapai sekitar 10.000 miligram per liter sehingga instalasi berkapasitas 30 liter per detik itu harus dihentikan sementara.
Untuk menjaga pelayanan, pasokan yang sebelumnya mengandalkan IPA Gunung Pasir dialihkan ke IPA Sungai Merdeka. Namun, sumber air di Sungai Merdeka sendiri sedang mengalami penyusutan debit.
Sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami gangguan pelayanan meliputi Kelurahan Karya Merdeka, Bukit Merdeka, Sei Merdeka, Samboja Kuala, Teluk Pemedas, dan Sanipah.
Sebagai penanganan sementara, Perumda Tirta Mahakam juga menyiapkan fasilitas keran air gratis di IPA Sungai Merdeka dan IPA Gunung Pasir agar pelanggan tetap dapat memperoleh air ketika distribusi mengalami gangguan.
Persoalan air baku di Samboja tidak terlepas dari kondisi iklim yang melanda Kalimantan Timur sepanjang 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 30 Juli 2026 memperingatkan fenomena El Niño berpotensi bertahan hingga awal kuartal pertama 2027. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko kekeringan, terlebih jika bersamaan dengan pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui keterangan resmi pada 12 Oktober 2026 juga menyampaikan bahwa El Niño tahun ini berada pada intensitas sangat kuat. Dampaknya turut memperpanjang musim kemarau di wilayah Kaltim.
Situasi tersebut menjadi tantangan bagi daerah yang mengandalkan sumber air permukaan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sebab, berkurangnya curah hujan dalam waktu panjang dapat menekan debit sungai sekaligus mengurangi kapasitas tampungan air baku.
Karena itu, normalisasi Sungai Merdeka menjadi salah satu langkah yang perlu segera ditindaklanjuti. Selain penanganan jangka pendek untuk mempertahankan produksi, diperlukan pula perencanaan pengelolaan sumber air yang lebih berkelanjutan.
Bagi Pemkab Kukar, persoalan ini bukan hanya menyangkut kemampuan perusahaan daerah memproduksi dan mendistribusikan air. Lebih jauh, kondisi tersebut menyangkut kepastian masyarakat mendapatkan akses terhadap kebutuhan dasar, terutama ketika ancaman kekeringan masih membayangi.
Dengan cadangan air baku yang semakin terbatas, kecepatan penanganan dan ketepatan strategi menjadi faktor penting agar gangguan pelayanan tidak semakin meluas.






