Pemkab Kutim Siapkan Skema Peningkatan Sekolah Filial jadi Sekolah Mandiri

Kutai Timur, Rilismedia.co – Pemerataan layanan pendidikan dasar di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali mendapat perhatian setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) memastikan bahwa 20 sekolah filial masih aktif menjadi penyangga akses pendidikan di wilayah terpencil.

Keberadaan sekolah filial ini menjadi solusi untuk menjangkau permukiman yang tidak padat, terpencar, atau berada jauh dari sekolah induk. Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa model filial tetap relevan, untuk daerah dengan kondisi geografis menantang seperti Kutim.

Bacaan Lainnya

Menurut Mulyono, sekolah filial adalah bentuk layanan khusus yang dirancang agar anak-anak tetap bisa bersekolah tanpa harus menempuh perjalanan jauh.

Di beberapa kecamatan, jarak ke sekolah induk dapat mencapai puluhan kilometer, dan kondisi ini menjadi alasan kuat mengapa Pemerintah mempertahankan sistem filial, meskipun tengah mendorong peningkatan status menjadi sekolah negeri mandiri secara bertahap.

“Tujuannya sederhana, jangan sampai ada anak yang tidak sekolah hanya karena jarak,” ujarnya.

Disdikbud Kutim menegaskan bahwa peningkatan status sekolah filial menjadi sekolah mandiri tetap memungkinkan sepanjang dua syarat terpenuhi, yakni lahan clear (bebas sengketa dan siap bangun) serta jumlah murid minimal 60 siswa.

Jika kedua syarat tersebut telah dipenuhi, sekolah filial akan mendapatkan penambahan tenaga pendidik definitif, ruang kelas permanen, dan fasilitas operasional yang lebih lengkap.

Proses ini sedang berlangsung di beberapa titik, yang sudah menunjukkan perkembangan jumlah peserta didik.

Saat ini, sebagian besar tenaga pengajar di sekolah filial masih berasal dari sekolah induk. Guru-guru tersebut ditugaskan secara rotasi, terutama di wilayah yang belum memiliki tenaga lokal.

Kutim sendiri masih memiliki lebih dari 3.800 guru honorer, sebagian di antaranya ikut menopang operasional sekolah filial.

Kondisi ini menunjukkan bahwa beban kerja guru di wilayah terpencil lebih berat, karena harus mengajar sekaligus memastikan keberlangsungan administrasi sekolah yang terbatas sumber daya.

Tantangan lain yang menjadi perhatian Pemerintah adalah keberadaan permukiman yang tersebar, dan banyak Desa di Kutim tidak berada dalam satu kluster pemukiman, sehingga mobilitas siswa dan guru menjadi terbatas.

Sekolah filial menjadi jembatan, agar layanan pendidikan tetap berjalan tanpa harus mengandalkan pembangunan sekolah negeri baru yang memerlukan biaya besar.

Ke depan, Pemerintah Kutai Timur menargetkan pemetaan ulang sekolah filial untuk menentukan sekolah mana yang siap ditingkatkan statusnya, serta wilayah mana yang tetap memerlukan layanan filial dalam jangka panjang.

“Sepanjang lahannya clear dan jumlah murid cukup, sekolah filial pasti kita bangun dan tingkatkan. Pemerintah harus hadir untuk memastikan pendidikan dijangkau semua anak, di manapun mereka tinggal,” tukasnya. (Adv-Diskominfo Kutim/Saif)

Pos terkait