Kutai Timur, Rilismedia.co – Program seragam gratis Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menjadi perhatian publik setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menegaskan bahwa, sebagian komponen seragam telah melibatkan pelaku usaha lokal, terutama pada produksi seragam batik motif khas Kutim.
Program ini dinilai bukan hanya meringankan beban orang tua siswa, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi sektor UMKM di daerah.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan bahwa setiap siswa menerima empat jenis seragam wajib, ditambah seragam batik, seragam pramuka, dan seragam olahraga.
Di jenjang kelas VI, beberapa komponen seragam tidak lagi dibagikan karena siswa sudah mendekati kelulusan, namun untuk jenjang lainnya program berjalan penuh.
Tahun ini, pemerintah juga menambahkan pembagian sepatu sekolah, sebuah kebijakan yang dianggap membantu keluarga berpenghasilan rendah memenuhi kebutuhan dasar pendidikan anak mereka.
Dari sisi produksi, seragam batik Kutim menjadi komponen yang paling banyak dikerjakan oleh pelaku UMKM lokal.
Batik ini memiliki motif resmi Kabupaten, sehingga Disdikbud mendorong agar pengerjaannya diberikan kepada pengrajin lokal.
Sementara seragam olahraga dan beberapa jenis seragam lainnya, dikerjakan oleh rekanan yang ditunjuk melalui mekanisme pengadaan barang/jasa.
Menurut Mulyono, Disdikbud sebagai pengguna anggaran hanya menentukan kebutuhan teknis, sedangkan penunjukan penyedia menjadi kewenangan bidang yang menangani perencanaan dan pengadaan.
Di sisi lain, penyaluran seragam gratis ini tetap disesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Misalnya, sekolah berasrama atau sekolah swasta tertentu yang sudah memiliki seragam internal dapat dilakukan penyesuaian.
Bagi sekolah swasta seperti YPPSB, program ini tetap dapat dinikmati karena sebagian besar komponen seragam bersifat standar nasional.
Meski berjalan setiap tahun, program seragam gratis membutuhkan koordinasi intensif, mulai dari pendataan siswa, verifikasi kebutuhan per jenjang, hingga distribusi agar tidak terjadi kesalahan sasaran.
Pemerintah memastikan bahwa, seluruh proses tetap berada dalam kerangka transparansi anggaran dan pengawasan melembaga.
Secara ekonomi, pemerintah berharap keterlibatan UMKM lokal dapat meningkatkan perputaran uang di daerah, menciptakan lapangan kerja baru, serta membantu berkembangnya industri kreatif berbasis batik Kutim.
“Seragam gratis ini bukan hanya membantu orang tua, tapi juga mendorong ekonomi lokal. Khusus batik Kutim, kami ingin produksi tetap dikerjakan pengrajin daerah agar manfaatnya semakin luas,” ujarnya. (Adv-Diskminfo Kutim/Saif)






