TENGGARONG, Rilismedia.co – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai menyiapkan pembangunan saluran irigasi untuk memperkuat ketersediaan air bagi lahan persawahan. Langkah ini dilakukan melalui pemanfaatan sejumlah void atau bekas galian tambang yang telah diidentifikasi memiliki potensi sebagai sumber air pertanian.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam memperkuat infrastruktur pertanian sekaligus mengantisipasi perubahan kondisi iklim yang berpotensi memengaruhi ketersediaan air dan produktivitas tanaman pangan.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, pemerintah daerah telah mengidentifikasi sejumlah void yang memungkinkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah.
Lokasi-lokasi tersebut selanjutnya akan mendapatkan penanganan melalui pembangunan saluran agar air yang tertampung dapat dialirkan menuju kawasan persawahan.
“Sehingga hari ini void-void yang sudah kita identifikasi untuk bisa melakukan pengairan-pengairan di sawah-sawah kita, itu akan kita lakukan treatment untuk pembangunan saluran, sehingga air-air itu bisa mengalir ke sawah-sawah kita,” ujar Aulia saat diwawancarai di Pendopo Odah Etam, Jumat (6/11).
Menurutnya, pembangunan saluran pengairan menjadi salah satu langkah penting untuk memastikan petani memiliki akses terhadap sumber air yang lebih memadai. Dengan begitu, ketersediaan air tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi hujan.
Aulia juga menyinggung dinamika iklim yang perlu diantisipasi pemerintah daerah. Ia menyebut informasi mengenai perubahan fenomena iklim menjadi salah satu pertimbangan dalam mempersiapkan kebutuhan air bagi sektor pertanian.
“Berdasarkan info dari BMKG, tahun depan itu kita tidak lagi El Nino, tapi kita kena La Nina. Kemungkinan kemarau itu akan lebih cepat datangnya, di pertengahan tahun itu sudah datang,” ungkapnya.
Kendati demikian, berdasarkan pembaruan informasi BMKG pada 3 November 2026, fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola pembentukan awan hujan dan ketersediaan air di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG juga mengingatkan pentingnya pemanfaatan informasi iklim sebagai dasar pengaturan waktu tanam, pengelolaan sumber daya air, serta perlindungan produksi pangan.
Dalam konteks Kalimantan Timur, BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 berlangsung bervariasi, mulai akhir Oktober hingga pertengahan November. Sementara puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Kaltim diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan air tetap menjadi kebutuhan penting bagi sektor pertanian, baik untuk menghadapi periode kering maupun mengantisipasi peningkatan curah hujan.
Pemanfaatan void sebagai sumber air alternatif diharapkan dapat memperkuat sistem pengairan pertanian di Kukar. Namun, pelaksanaannya membutuhkan perencanaan teknis, mulai dari kelayakan sumber air, kapasitas tampungan, pembangunan jaringan saluran hingga pengaturan distribusi air menuju lahan pertanian.
Dengan penguatan infrastruktur pengairan tersebut, Pemkab Kukar berupaya menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah di tengah dinamika perubahan iklim.






