Diarpus Kukar Gelar Bimtek, SDN 007 Tenggarong Jadi Role Model Perpustakaan

TENGGARONG, Rilismedia.co – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara ( Kukar) melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tenaga Perpustakaan dengan mengusung tema “Pengenalan Pengelolaan dan Penyelenggaraan Perpustakaan”

Kegiatan yang dihelat di Aula Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Senin (12/10) ini dalam rangka meningkatkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) khususnya tenaga perpustakaan sekolah dasar (SD), dan sekolah menengah pertama (SMP) dalam melaksanakan pengelolaan dan penyelenggaraan perpustakaan secara efektif, tertib, sistematis serta sesuai dengan standar nasional perpustakaan.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara (Diarpus Kukar), H.M. Ridha Darmawan.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kutai Kartanegara (Diarpus Kukar), H.M. Ridha Darmawan dalam sambutannya mengatakan, kendati tidak ada anggaran dalam pelaksanaan Bimtek, namun Diarpus Kukar mengapresiasi semangat dan antusiasme dari para peserta Bimtek yang hadir pada hari ini. Antusiasme dan semangat ini diharapkan menjadi cikal-bakal untuk menjadikan perpustakaan di sekolah masing-masing dapat diterapkan sesuai dengan standar nasional.

Lebih lanjut dikatakannya, siluet gambar perpustakaan yang ditampilkan pada saat menyanyikan mars tadi, merupakan contoh ideal dari sebuah perpustakaan. Oleh karena itu, orang nomor satu di Diarpus Kukar ini berkeinginan agar setiap sekolah mampu menghadirkan perpustakaan yang tak hanya mengoleksi pelbagai literaratur saja, tetapi juga mampu menarik minat para peserta didik untuk berkunjung dan meningkatkan minat baca.

“Saat mars tadi ada gambar-gambar perpustakaan. Saya ingin sekali perpustakaan di sekolah dapat dikunjungi dan disenangi oleh anak-anak. Nah, itu tugas kita menciptakan perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah itu, sehingga anak-anak kita senang untuk berkunjung,” katanya.

Di sisi lain, sambung Ridha Darmawan, berdasarkan laporan yang diterima, Perpustakaan di SDN 007 Tenggarong telah berhasil mendapatkan akreditasi A dari Tim Asesor Akreditasi Perpustakaan. Melalui pencapaian yang direngkuh SDN 007 Tenggarong ini paling kurang dapat menjadi role model bagi perpustakaan SD lain yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Kukar.

Selain itu, ia juga meminta pustakawan dari masing-masing sekolah agar dapat berkunjung ke perpustakaan SDN 007 Tenggarong

“Mudahan-mudahan SD OO7 memberikan kesempatan bagi bapa ibu untuk berkunjung ke sana dan melihat langsung. Di sini menceritakan, di sana melihat secara langsung perpustakaan yang dibangun di sana,” pintanya.

Ia berharap melalui kegiatan Bimtek ini pihak sekolah mampu menghadirkan ruang perpustakaan yang lengkap, rapi, sistematis sehingga menarik minat baca para peserta didik.

“Mudah-mudahan hasil Bimtek ini seperti gambar yang ada di dalam mars yakni dikunjungi oleh peserta didik,” katanya.

Sementara itu, Pustakawan Diarpus Kukar, Heni dalam pemaparannya materi membahas tentang” Pengelolaan Pengembangan Layanan Perpustakaan”.

Heni menyebut dasar hukum dari pelaksana kegiatan ini merujuk pada Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2024 tentang Standar Nasional Perpustakaan Sekolah atau Madrasah.

Selain basis regulasi, salah satu bagian penting dari adanya perpustakaan yakni koleksi perpustakaan. Dalam istilah teknis koleksi perpustakaan adalah bahan perpustakaan yang diseleksi, disiapkan dan dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dari perpustakaan.

Heni menambahkan, yang tak kala pentingnya dari sebuah perpustakaan adalah jenis-jenis koleksi yang disediakan. Dalam upaya untuk mengoleksi pelbagai literaratur, pihak pustakawan mesti menyeleksi setiap bahan, menyediakan dan mengembangkan koleksi literaratur itu dengan mempertimbangkan kebutuhan, perkembangan jasmani dan rohani pemustaka serta memperhatikan kebijakan pengembangan koleksi dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam rangka mendukung proses pembelajaran di sekolah.

Begitu juga memprioritaskan bahan perpustakaan yang sudah dinyatakan kelayakannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Selain itu, bahan perpustakaan yang sudah diorganisasikan berdasarkan standar pengelolaan koleksi yang berlaku untuk kemudahan, kecepatan dan ketepatan temu kembali informasi dengan memperhatikan perkembangan TIK. Serta konsumsi perpustakaan disimpan, dikelola dan dilayankan secara berkelanjutan, terprogram untuk kepentingan pelestarian koleksi. Dan ketersediaan akses informasi serta dengan memperhatikan perkembangan TIK,” paparnya.

Menurut Heni ada 5 jenis koleksi perpustakaan. Pertama, Karya Cetak yang terdiri atas buku teks, nonteks, referensi, panduan, terbitan berkala seperti surat kabar dan majalah serta bahan kartografi seperti peta dan atlas.

Kedua, Karya Rekam. Jenis koleksi karya rekam terdiri atas rekaman suara seperti kaset. Audio visual seperti CD, VCD, dan DVD. Elektronik seperti buku dan terbitan berkala elektronik.

Ketiga, Koleksi Lokal dan Muatan Lokal. Jenis koleksi ini terdiri dari terbitan lokal karya pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Koleksi muatan lokal.

Keempat, Koleksi Referensi. Terdiri dari ensiklopedia, Kamis, buku, pedoman dan globe.

Kelima, alat peraga, praktek dan/atau permainan.

Sedangkan, kata dia, jumlah koleksi perpustakaan sebagai berikut: menyediakan buku teks utama, menyediakan koleksi perpustakaan paling sedikit 1000 judul, menyediakan buku panduan guru, menyediakan buku pengayaan dengan perbandingan 40 persen fiksi dan 60 persen non-fiksi untuk tingkat SD. Dan untuk sekolah menengah pertama (SMP) 30 persen fiksi dan 70 persen non-fiksi.

“Selain itu, perlu juga menyediakan koleksi referensi paling sedikit 4 jenis untuk SD, 8 jenis untuk SMP. Menyediakan media cetak terbitan berkala paling sedikit 2 judul dan menyediakan alat peraga, praktik dan/atau permainan paling sedikit tiga jenis,” bebernya.

Bagi Heni, koleksi yang disediakan sesuai dengan standar adalah fondasi utama yang menjamin kualitas layanan
perpustakaan. Hubungan keduanya bersifat mutlak: pengorganisasian koleksi yang sistematis secara langsung menghasilkan layanan yang mudah, cepat, tepat, dalam temu kembali informasi bagi pemustaka.

“Tanpa pengorganisasian yang baik, layanan perpustakaan tidak akan dapat berjalan secara efektif dan efisien,” pungkasnya.

Pos terkait