Kunjungan Wisata Kutim Tembus 430 Ribu pada 2024

KUTIM, Rilismedia.co — Angka kunjungan menjadi “denyut nadi” yang memperlihatkan perkembangan pariwisata Kutai Timur. Setelah hanya berada di kisaran 110 ribu kunjungan pada 2023, data pemerintah daerah mencatat lonjakan menjadi sekitar 430 ribu kunjungan sepanjang 2024. Setahun berikutnya, jumlah tersebut sedikit terkoreksi.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata, Demmy Aditya Herwanto, mengatakan data kunjungan wisata pada 2025 tercatat sekitar 426 ribu. Artinya, terdapat penurunan sekitar 4 ribu kunjungan dibandingkan tahun sebelumnya.

Demmy menduga kondisi efisiensi turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan tersebut. Kendati demikian, ia menyampaikan dugaan itu sebagai pandangan sementara, bukan kesimpulan hasil kajian khusus mengenai penyebab turunnya angka kunjungan.

“Di 2023 kunjungan kita itu hanya 110 ribu, 2024 data kunjungan kita 430 ribu. Tahun 2025 terjadi penurunan sekitar 4 ribu, 426 ribu,” kata Demmy saat diwawancarai di ruang kerjanya.

Menurut dia, pola kunjungan wisata di Kutai Timur menunjukkan peningkatan paling tinggi pada periode libur. Momentum Lebaran, Natal dan Tahun Baru menjadi waktu ketika masyarakat ramai mendatangi destinasi wisata.

Kondisi tersebut memperlihatkan besarnya pasar wisata domestik di dalam daerah. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur karena itu tidak hanya mengandalkan kedatangan wisatawan dari luar, tetapi juga berupaya mempertahankan masyarakat lokal agar memilih destinasi di wilayah sendiri.

Salah satu contoh tingginya permintaan pada destinasi tertentu terlihat di Pulau Miang. Demmy menyebut wisatawan yang ingin mendapatkan tempat menginap di kawasan tersebut perlu melakukan reservasi jauh hari, terutama ketika permintaan sedang tinggi.

“Pulau Miang itu sekarang kita harus reservasi dua minggu sebelumnya. Baru bisa masuk. Kalau kita datang begitu saja, tidak bakal dapat tempat menginap,” ujarnya.

Tingginya permintaan akomodasi menjadi sinyal bahwa sejumlah destinasi di Kutai Timur telah memiliki pasar. Tantangan berikutnya adalah menjaga kualitas pelayanan, memperkuat kapasitas pengelola serta mengembangkan fasilitas tanpa menghilangkan karakter lingkungan dan masyarakat setempat.

Pemerintah juga melihat peningkatan kunjungan harus diterjemahkan menjadi manfaat ekonomi.

“Banyaknya wisatawan akan memberikan hasil lebih luas apabila belanja mereka terserap oleh penginapan lokal, warung makan, jasa transportasi, pemandu wisata dan produk UMKM, ” terangnya.

Karena itu, Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata turut melakukan pembinaan kelembagaan masyarakat serta usaha jasa pariwisata. Pengembangan destinasi dan penguatan pelaku usaha berjalan beriringan agar peningkatan jumlah pengunjung tidak hanya menghasilkan angka statistik.

Perubahan dari sekitar 110 ribu kunjungan pada 2023 menjadi 430 ribu pada 2024 menunjukkan adanya pertumbuhan signifikan berdasarkan data yang disampaikan bidang tersebut.

“Meski jumlah kunjungan kemudian turun tipis menjadi sekitar 426 ribu pada 2025, basis wisatawan yang telah terbentuk tetap menjadi peluang, ” tutupnya.

Pemerintah daerah kini menghadapi pekerjaan untuk mempertahankan pasar tersebut sepanjang tahun, tidak hanya pada musim libur. Jika kunjungan dapat tersebar lebih merata dan wisatawan membelanjakan uangnya di usaha lokal, pariwisata dapat semakin kuat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat Kutai Timur. (Dit/ADV/KUtim).

Pos terkait