SANGATTA — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kutai Timur bakal memasuki babak baru kepengurusan pada periode 2027–2031. Di tengah persiapan menuju pemilihan ketua, Munir Perdana menyatakan diri siap maju membawa agenda pembenahan pembinaan olahraga daerah.
Ketua Cabang Olahraga (Cabor) Gulat Kutai Timur itu menilai persoalan olahraga tidak berhenti pada perolehan medali. Di belakang prestasi atlet terdapat rantai pembinaan, kualitas pelatih, fasilitas, kompetisi, hingga tata kelola organisasi yang harus berjalan beriringan.
Munir mengatakan KONI semestinya menjadi rumah bersama bagi seluruh cabang olahraga. Karena itu, ia ingin mendorong sistem pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan apabila memperoleh mandat memimpin KONI Kutai Timur.
“Yang harus dibangun bukan hanya prestasinya, tetapi sistemnya. Atlet harus punya jalur pembinaan yang jelas, pelatih mendapat dukungan, dan cabang olahraga memperoleh ruang untuk berkembang,” ujar Munir, Senin, 24 Agustus 2026.
Menurut dia, Kutai Timur memiliki potensi atlet yang dapat dikembangkan lebih jauh. Potensi tersebut membutuhkan program pembinaan yang tidak bersifat musiman, terutama ketika menghadapi agenda pertandingan tertentu.
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi. Pembinaan atlet usia dini perlu diperkuat agar prestasi olahraga Kutai Timur tidak bergantung pada generasi atlet tertentu.
KONI Diminta Tak Berjalan Sendiri
Munir mengatakan KONI tidak mungkin bekerja sendirian. Pemerintah daerah, pengurus cabang olahraga, pelatih, dunia usaha hingga masyarakat memiliki peran dalam membangun ekosistem olahraga.
Dukungan tersebut dibutuhkan mulai dari penyediaan fasilitas, pembiayaan program, kompetisi, pemusatan latihan hingga kebutuhan atlet ketika menjalani persiapan pertandingan.
“Olahraga tidak bisa dibebankan kepada KONI saja. Pemerintah, cabang olahraga, dunia usaha dan pemangku kepentingan lainnya harus duduk bersama. Kalau sinerginya kuat, pembinaan atlet juga akan lebih terarah,” katanya.
Selain pembinaan, Munir membawa isu tata kelola organisasi. Ia menginginkan KONI Kutai Timur dikelola secara profesional, terbuka dan memiliki komunikasi yang lebih kuat dengan seluruh cabang olahraga.
Baginya, kekuatan KONI bukan hanya ditentukan oleh siapa yang menjadi ketua, melainkan sejauh mana organisasi mampu mengakomodasi kepentingan seluruh cabor.
“Siapa pun yang nantinya mendapat amanah harus bekerja untuk semua cabang olahraga. Jangan sampai ada yang merasa berjalan sendiri,” ujar mantan Ketua DPD KNPI Kutai Timur tersebut.
Siap Ikuti Proses Pemilihan
Munir menyatakan kesiapannya mengikuti proses pemilihan Ketua KONI Kutai Timur periode 2027–2031. Namun, ia berharap kontestasi tersebut tidak berubah menjadi pertarungan kepentingan personal.
Ia menginginkan proses pemilihan berlangsung demokratis dan terbuka, dengan gagasan mengenai masa depan olahraga menjadi pertimbangan utama.
Menurutnya, setelah ketua terpilih, tantangan sebenarnya justru baru dimulai. KONI harus membuktikan bahwa kepengurusan baru mampu mengubah pembinaan menjadi program yang terukur dan menghasilkan prestasi.
“Kontestasi itu bagian dari organisasi. Tetapi setelah proses selesai, semua harus kembali bersatu untuk olahraga Kutai Timur. Ukurannya bukan siapa yang menang, melainkan bagaimana prestasi atlet kita ke depan,” katanya.
Munir kini mulai menyampaikan gagasan tersebut kepada insan olahraga Kutai Timur. Ia berharap pencalonannya dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan perubahan dalam sistem pembinaan atlet sekaligus memperkuat posisi Kutai Timur di peta olahraga Kalimantan Timur.
“Harapannya, dukungan yang muncul bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi menjadi energi bersama untuk membangun olahraga Kutai Timur yang lebih maju dan berprestasi,” pungkasnya.






