11 Negara Asia Krisis Energi Akibat Perang Timur Tengah

Rilisemedia.co –Penutupan Selat Hormuz picu gangguan pasokan minyak, negara-negara Asia berlomba lakukan langkah darurat

Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memicu efek domino terhadap stabilitas ekonomi global, khususnya di sektor energi. Sejumlah negara di Asia mulai merasakan dampak nyata berupa krisis bahan bakar minyak (BBM).

Situasi ini dipicu langkah Iran yang menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas global. Penutupan tersebut menyebabkan terganggunya rantai pasok energi ke berbagai negara, terutama di kawasan Asia.

Sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026, berbagai negara mulai mengambil kebijakan darurat untuk menjaga stabilitas energi nasional.

Vietnam Pangkas Penerbangan dan Cari Pasokan Baru

Vietnam menjadi salah satu negara yang terdampak signifikan. Maskapai nasional Vietnam Airlines berencana menangguhkan sekitar 23 penerbangan domestik per minggu mulai 1 April 2026 akibat keterbatasan bahan bakar jet (Jet A-1).

“Vietnam Airlines berencana untuk menangguhkan sementara operasional di beberapa rute mulai 1 April. Pasokan bahan bakar penerbangan (Jet A-1) yang terbatas akibat konflik di Timur Tengah telah membuat maskapai penerbangan domestik berisiko kekurangan bahan bakar,” demikian pernyataan otoritas penerbangan sipil Vietnam.

Meski demikian, rute utama domestik dan penerbangan internasional tetap dipertahankan. Maskapai juga mempertimbangkan penerapan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk penerbangan internasional.

Untuk mengatasi krisis, Vietnam meminta dukungan pasokan energi dari negara seperti Qatar, Kuwait, Aljazair, dan Jepang, serta menjalin kerja sama produksi minyak dan gas dengan Rusia.

Laos Pangkas Pajak dan Terapkan Penghematan

Laos mengambil langkah agresif dengan memangkas pajak bahan bakar, yakni pajak bensin dari 25 persen menjadi 15 persen dan pajak solar dari 10 persen menjadi 0 persen.

Selain itu, pemerintah mengoptimalkan subsidi untuk menjaga harga tetap stabil. Upaya penghematan juga diterapkan melalui kebijakan kerja jarak jauh, pembatasan perjalanan dinas, serta pengurangan pertemuan tatap muka.

Langkah tambahan termasuk layanan pengisian BBM keliling di ibu kota Vientiane dan penyediaan bus gratis di wilayah tertentu. Bahkan, kegiatan belajar tatap muka di sekolah dikurangi menjadi tiga hari per minggu guna menekan konsumsi BBM.

Kamboja Hadapi Gangguan LPG

Di Kamboja, krisis energi diperparah dengan terganggunya pasokan LPG setelah perusahaan Sokimex menghentikan sementara distribusi mulai 1 April akibat kesulitan impor.

Sokimex diketahui mengoperasikan sekitar 500 SPBU di seluruh negeri. Meski hanya menguasai sekitar 3 persen pasar LPG, gangguan ini tetap memicu kekhawatiran.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan LPG dan beralih ke energi listrik, seperti kompor listrik atau rice cooker, guna menjaga ketersediaan pasokan.

Thailand Stabilkan Distribusi dan Cadangan

Thailand merespons cepat dengan meningkatkan cadangan minyak dari 1 persen menjadi 3 persen dari total penjualan tahunan atau setara 11 hari konsumsi.

Pemerintah juga mencabut pembatasan distribusi siang hari di kawasan perkotaan untuk mempercepat pasokan, serta mewajibkan pelaporan harian distribusi minyak oleh kilang dan depo.

Selain itu, ekspor minyak dibatasi guna memprioritaskan kebutuhan dalam negeri, kecuali untuk Laos dan Myanmar.

India Tingkatkan Impor dan Redam Kepanikan

India menghadapi antrean panjang di sejumlah SPBU akibat panic buying di wilayah seperti Gujarat dan Andhra Pradesh.

Namun pemerintah menegaskan tidak ada kekurangan BBM. India memiliki kapasitas penyulingan sekitar 26 crore ton per tahun dan kilang tetap beroperasi optimal.

Pemerintah juga meningkatkan impor dari Rusia untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah, serta memprioritaskan distribusi untuk rumah tangga dan meningkatkan produksi LPG domestik hingga 40 persen.

Filipina Tetapkan Darurat Energi Nasional

Presiden Ferdinand Marcos Jr menetapkan status darurat energi nasional di Filipina selama satu tahun.

Pemerintah membentuk komite khusus untuk mengatur distribusi BBM dan memastikan ketersediaan pasokan. Filipina saat ini memiliki cadangan sekitar 45 hari dan berupaya menambah hingga 1 juta barel minyak.

Subsidi sebesar 5.000 peso juga diberikan kepada pengemudi transportasi umum, serta penyediaan bus gratis di beberapa kota.

Pakistan Siapkan Sistem Kuota Digital

Pakistan merancang sistem distribusi BBM berbasis kuota digital. Konsumen akan menggunakan aplikasi yang terhubung dengan identitas kendaraan untuk mendapatkan jatah bahan bakar.

Sistem ini bertujuan mengontrol konsumsi serta mencegah penyalahgunaan distribusi BBM di tengah krisis.

Bangladesh Hadapi Antrean dan Kekhawatiran

Di Bangladesh, krisis terlihat dari antrean panjang di SPBU dan kekhawatiran penutupan massal akibat gangguan pasokan. Meski demikian, pemerintah membantah adanya krisis energi dan memastikan pasokan masih mencukupi.

“Saat ini, tidak ada kekurangan energi di negara ini,” tegas Menteri Informasi Bangladesh.

Jepang Lepas Cadangan Terbesar

Jepang mengambil langkah besar dengan melepas cadangan minyak strategis sekitar 80 juta barel, setara 45 hari kebutuhan domestik.

Pemerintah juga memberikan subsidi untuk menahan harga bensin di kisaran 170 yen per liter setelah sempat menyentuh 190,8 yen.

Korea Selatan Siapkan Stimulus Besar

Korea Selatan merespons dengan membatasi harga BBM untuk pertama kalinya dalam 30 tahun, serta menyiapkan program stabilisasi pasar senilai 100 triliun won.

Pemerintah juga merancang anggaran tambahan sebesar 25 triliun won dan menggelar rapat darurat ekonomi secara rutin.

Sri Lanka Hadapi Krisis Serius

Sri Lanka menghadapi krisis energi dengan stok BBM yang diperkirakan hanya cukup untuk 25 hari.

Pemerintah menaikkan harga bahan bakar hingga 30 persen dan menerapkan sistem distribusi berbasis QR code serta skema ganjil-genap untuk kendaraan guna mengendalikan konsumsi.

Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya ketahanan energi global terhadap konflik geopolitik. Negara-negara di Asia kini dipaksa bergerak cepat, mulai dari efisiensi konsumsi hingga mencari sumber energi alternatif demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Pos terkait