Rilismedia.co – Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) DPRD Samarinda terus mengawal penggunaan anggaran pendidikan agar tepat sasaran. Ketua Pansus LKPJ, H. Achmad Sukamto, memimpin langsung kegiatan tur lapangan bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Kamis (23/4).
Kegiatan ini bertujuan memastikan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 benar-benar terserap optimal, khususnya untuk peningkatan fasilitas pendidikan.
Dalam peninjauan tersebut, Pansus menyasar sejumlah lokasi, di antaranya SDN 010 Palaran untuk melihat progres pembangunan lantai dua yang akan segera dilanjutkan. Kemudian kawasan pendidikan terpadu di Loa Bakung yang meliputi SDN 028, SMPN 16, dan SMA Prestasi guna mengecek kondisi fisik bangunan serta ketersediaan meubelair. Selain itu, rombongan juga meninjau sarana pendukung di SMPN 5 Jalan Juanda.
Pansus menegaskan komitmennya untuk memberikan rekomendasi strategis agar pembangunan yang belum tuntas pada 2025 dapat segera diselesaikan dan dimanfaatkan oleh siswa pada 2026. Upaya ini dinilai penting demi mendorong terciptanya kualitas pendidikan yang lebih baik, dimulai dari fasilitas yang memadai.
Namun di lapangan, masih ditemukan sejumlah kendala. Aktivitas belajar di SDN 010 Palaran, misalnya, belum berjalan normal akibat pembangunan sekolah yang belum rampung. Ratusan siswa terpaksa belajar bergantian dengan menumpang di SDN 024 Palaran pada siang hari karena keterbatasan ruang kelas.
Kepala sekolah, Sarti, mengungkapkan kebutuhan 12 ruang kelas belum terpenuhi, sementara sekolah yang digunakan hanya memiliki delapan ruang. Saat ini, satu kelas diisi sekitar 26 siswa dengan jam belajar berlangsung pukul 13.00 hingga 16.00 WITA.
Ia menjelaskan, keterlambatan pembangunan terjadi sejak 2025 akibat kendala struktur tanah. Tiang pancang yang semula direncanakan sepanjang 18 meter harus diperpanjang hingga 30 meter, sehingga menyerap anggaran lebih besar. Dampaknya, masih terdapat empat ruang kelas yang belum terbangun.
Dengan jumlah siswa mencapai sekitar 300 orang, kondisi tersebut dinilai belum ideal untuk proses belajar mengajar. Pihak sekolah berharap pembangunan dapat segera dilanjutkan, termasuk pengadaan meubelair yang saat ini banyak mengalami kerusakan






