Disketapang Kukar Dorong Sorgum dan Jelai Jadi Alternatif Beras

TENGGARONG, Rilismedia co -Ketahanan pangan tidak harus selalu bertumpu pada beras. Di tengah upaya mendorong diversifikasi pangan, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai memperkuat pengembangan pangan lokal melalui budidaya sorgum dan jelai sebagai alternatif sumber karbohidrat masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari program Stop Boros Pangan dan gerakan “Kenyang Tidak Harus Nasi” yang diusung Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar. Melalui program tersebut, masyarakat diharapkan semakin mengenal beragam sumber pangan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap beras sebagai makanan pokok.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar, Ananias menjelaskan bahwa diversifikasi pangan merupakan salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada perubahan pola konsumsi, tetapi juga pada pemberdayaan potensi pangan lokal dari hulu hingga hilir.

“Dalam program Stop Boros Pangan, salah satu program utama kita adalah ‘Kenyang Tidak Harus Nasi’. Kita tidak boleh bergantung pada beras. Karena itu, kita harus melakukan penganekaragaman pangan dengan memberdayakan pangan-pangan lokal yang kita miliki,” ujar Ananias di ruang kerjanya belum lama ini.

Menurutnya, Disketapang Kukar berencana mengembangkan sorgum dan jelai di dua kawasan, yakni Sumber Sari dan Karang Tunggal. Pengembangan tersebut akan mencakup proses budidaya hingga pemasaran agar komoditas yang dihasilkan tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi juga memiliki peluang untuk diterima masyarakat.

Pemilihan jelai dan sorgum bukan tanpa alasan. Jelai memiliki kedekatan dengan sejarah konsumsi pangan masyarakat lokal, khususnya masyarakat Dayak. Sementara itu, sorgum dinilai berpotensi dikembangkan karena kondisi tanah dan iklim di Kukar dianggap sesuai untuk mendukung pertumbuhannya.

“Jelai itu asli kita di Kutai. Nenek moyang kita dahulu, khususnya suku Dayak, sudah terbiasa mengonsumsi jelai. Kalau sorgum memang diperkenalkan dari luar, tetapi sangat cocok untuk dikembangkan di Kukar,” katanya.

Potensi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Rencana Strategis (Renstra) Disketapang Kukar 2025–2029 melalui program penyediaan pangan lokal berbasis sorgum dan jelai.

Bagi Disketapang, pengembangan kedua komoditas ini bukan sekadar menghadirkan pilihan makanan baru. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem pangan yang lebih beragam, memanfaatkan potensi daerah, dan mendukung gerakan “Kenyang Tidak Harus Nasi”.

Salah satu tantangan dalam memperkenalkan pangan alternatif adalah mengubah kebiasaan konsumsi masyarakat. Beras telah lama menjadi makanan pokok, sehingga pangan pengganti perlu memiliki karakteristik yang mudah diterima, baik dari segi pengolahan maupun penyajiannya.
Di sinilah sorgum dan jelai dinilai memiliki keunggulan. Setelah melalui proses pengolahan untuk memisahkan kulitnya, bentuk biji kedua komoditas tersebut dapat menyerupai beras sehingga lebih mudah diperkenalkan sebagai alternatif sumber karbohidrat.

“Karbohidratnya hampir sama dengan beras. Secara kasatmata, ketika diolah, sorgum dan jelai hampir sama dengan beras yang biasa kita konsumsi. Prosesnya digiling, kemudian setelah kulitnya terkelupas, bentuknya menyerupai beras,” jelasnya.

Cara memasaknya pun relatif sederhana. Untuk sorgum putih, misalnya, biji sorgum dapat direndam semalaman sebelum dimasak menggunakan penanak nasi atau magic com, dengan penyesuaian air dan waktu memasak sesuai karakteristik bijinya.

“Jadi, tidak menyulitkan dalam pengolahannya. Secara visual, hasilnya juga menyerupai nasi. Begitu pula jelai,” ungkapnya.

Kemudahan pengolahan ini diharapkan dapat membantu masyarakat mencoba sumber karbohidrat alternatif tanpa harus mengubah kebiasaan memasak secara drastis.

Selain itu, sorgum dan jelai juga memiliki potensi sebagai bagian dari pola makan yang beragam. Kandungan gizi keduanya dapat menjadi nilai tambah, meskipun komposisi nutrisi setiap produk bergantung pada jenis bahan dan proses pengolahannya.

Tak hanya dari sisi konsumsi, potensi sorgum dan jelai juga terletak pada budidayanya. Berbeda dengan padi yang umumnya membutuhkan lahan sawah dengan ketersediaan air memadai, sorgum dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan yang sesuai, termasuk lahan kering.

“Sorgum ini tidak harus ditanam di sawah yang memiliki air cukup. Pada lahan yang sesuai, sorgum juga bisa tumbuh di pematang dan berbagai area lainnya. Jadi, pengembangannya relatif lebih fleksibel,” katanya.

Keunggulan lain yang disorot adalah peluang memperoleh panen berulang dari satu kali penanaman, bergantung pada varietas, kondisi tanaman, dan pengelolaan budidaya. Menurutnya, tanaman tersebut secara ideal dapat dimanfaatkan hingga tiga kali panen sebelum dilakukan penanaman kembali.

Ia mengungkapkan pernah mencoba budidaya dalam skala kecil dan memperoleh hasil hingga tujuh kali panen. Namun, hasil panen pada periode keempat hingga ketujuh mulai mengalami penurunan.

“Kalau berdasarkan pengalaman saya, panen keempat sampai ketujuh hasilnya sudah menurun. Idealnya, tiga kali panen masih bisa dimanfaatkan. Jadi, satu kali tanam bisa bertahan hingga sekitar satu tahun sebelum ditanam kembali,” jelasnya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat peluang pengembangan sorgum sebagai komoditas pangan lokal. Meski demikian, hasil budidaya dan jumlah panen tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, varietas, serta teknik pemeliharaan yang diterapkan.

Untuk memperluas penerapan program, Disketapang Kukar juga telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan kelompok wanita tani di Kukar. Kerja sama tersebut direncanakan menjadi salah satu jalur pengembangan sorgum dan jelai di dua kecamatan.
Keterlibatan kelompok wanita tani diharapkan dapat memperkuat partisipasi masyarakat dalam proses budidaya sekaligus membuka peluang pengembangan usaha pangan lokal.

Dengan pendampingan yang tepat, kegiatan ini berpotensi menjadi sarana pembelajaran mengenai alternatif komoditas pertanian dan pengolahan pangan.

Disketapang pun berupaya membangun pengembangan yang menyeluruh, mulai dari penanaman, pengolahan hasil, hingga pemasaran. Dengan demikian, sorgum dan jelai tidak hanya diperkenalkan sebagai pengganti beras, tetapi juga sebagai komoditas yang berpotensi memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Keunggulan inilah yang ingin kita kembangkan. Budidayanya berpotensi lebih mudah dan produknya bisa menjadi pilihan pangan yang sehat. Semuanya untuk mendukung slogan ketahanan pangan kita, ‘Kenyang Tidak Harus Nasi’,” tegasnya.

Pada akhirnya, diversifikasi pangan bukan semata-mata soal mengganti nasi di atas piring. Upaya ini juga menyangkut bagaimana daerah mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, menghidupkan kembali pangan lokal, serta membangun kebiasaan konsumsi yang lebih beragam.

Melalui pengembangan sorgum dan jelai, Kukar berupaya membuka jalan menuju ketahanan pangan yang tidak hanya bergantung pada satu komoditas. Sebab, semakin beragam sumber pangan yang dikembangkan dan dimanfaatkan, semakin terbuka pula peluang untuk memperkuat kemandirian pangan daerah.

Pos terkait