Berawal dari Desa Transmigrasi, Keragaman Warga Jadi Modal Sosial Karya Bhakti

KUTIM, Rilismedia.co — Keragaman masyarakat menjadi salah satu modal sosial yang dimiliki Desa Karya Bhakti, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur. Desa yang tumbuh dari kawasan transmigrasi tersebut kini dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang etnis dan budaya yang telah hidup berdampingan selama puluhan tahun.

Kepala Desa Karya Bhakti, Slamet Suwito, mengatakan keberagaman masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan desa sejak awal terbentuknya kawasan transmigrasi.

“Karya Bhakti ini sejak awal memang dibangun oleh masyarakat dari berbagai daerah. Ada Jawa, Timor, Lombok dan suku-suku lainnya. Perbedaan itu selama ini bukan menjadi penghalang, justru menjadi kekuatan karena masyarakat bisa hidup berdampingan dan bersama-sama membangun desa,” kata Slamet saat diwawancarai melalui telepone, Sabtu (26/9/2026).

Desa Karya Bhakti memiliki luas wilayah sekitar 2.136 hektare. Berdasarkan profil desa, Karya Bhakti merupakan salah satu dari sembilan desa eks-transmigrasi yang berada di Kecamatan Muara Wahau.

Sejarah desa bermula dari program transmigrasi yang berlangsung pada 1987 hingga 1997. Wilayah tersebut sebelumnya dikenal sebagai Satuan Pemukiman Pantun I dan masih menginduk kepada Desa Jak Luay.

Latar belakang tersebut kemudian membentuk karakter masyarakat Karya Bhakti yang majemuk. Warga yang datang dari berbagai daerah membawa budaya, kebiasaan serta latar belakang yang berbeda, namun kemudian tumbuh bersama dalam satu lingkungan desa.

Pada 30 April 1997, Karya Bhakti mengalami perubahan status dari satuan pemukiman menjadi desa definitif. Perubahan tersebut sekaligus menjadi awal penyelenggaraan pemerintahan desa secara mandiri dan terpisah dari Desa Jak Luay sebagai desa induk.

Dalam perkembangannya, jumlah penduduk Karya Bhakti tercatat mencapai 2.801 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.405 merupakan penduduk laki-laki dan 1.396 perempuan.

Menurut Slamet, keberagaman yang sudah terbentuk selama puluhan tahun perlu terus dijaga, terutama dengan memberikan ruang kepada generasi muda untuk terlibat dalam berbagai kegiatan positif.

“Kami ingin keberagaman yang ada ini tetap terjaga. Pemuda juga terus kita dorong melalui Karang Taruna, olahraga maupun kegiatan seni dan budaya, supaya mereka mempunyai ruang untuk berkegiatan dan ikut membangun desa,” ujarnya.

Arah tersebut sejalan dengan salah satu misi Pemerintah Desa Karya Bhakti yang mendorong pemberdayaan pemuda melalui Karang Taruna, khususnya dalam bidang olahraga serta seni budaya.

Pemerintah desa juga merencanakan pengembangan taman desa dan ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana bermain, edukasi dan rekreasi bagi masyarakat.

Keberadaan ruang publik dinilai penting bagi desa dengan masyarakat yang beragam. Selain menjadi tempat rekreasi, ruang bersama dapat menjadi titik pertemuan warga sekaligus wadah aktivitas sosial, pendidikan hingga budaya.

Bagi Pemerintah Desa Karya Bhakti, pembangunan desa tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik maupun infrastruktur. Kehidupan sosial masyarakat juga menjadi bagian penting yang perlu terus diperkuat.

“Harapan kami tentu Karya Bhakti semakin maju, tetapi pembangunan bukan hanya soal infrastruktur. Kebersamaan, keamanan dan kerukunan masyarakat juga harus terus kita jaga karena itu menjadi modal utama desa,” tegas Slamet.

Sejarah sebagai kawasan transmigrasi membuat Karya Bhakti memiliki karakter tersendiri. Desa tersebut tumbuh dari pertemuan berbagai kelompok masyarakat yang kemudian membangun kehidupan bersama selama puluhan tahun.

Keragaman itu kini menjadi salah satu kekuatan yang dapat dikembangkan bersama potensi ekonomi, kepemudaan, seni budaya dan pemberdayaan masyarakat.

Dengan masyarakat sebagai penggerak utama pembangunan, potensi Karya Bhakti tidak hanya berada pada wilayahnya yang mencapai ribuan hektare, tetapi juga pada kebersamaan warganya yang terus terpelihara sejak awal berdirinya desa. (Dit/ADV/KUTIM)

Pos terkait