Kutai Timur, Rilismedia.co — Kabupaten Kutai Timur (Kutim) masih mengandalkan daging sapi dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) mencatat produksi lokal baru mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan pemotongan, sedangkan sisanya harus dipenuhi dari Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, hingga Jawa Timur.
Kepala DTPHP Kutim, Dyah Ratnaningrum, mengatakan kebutuhan pemotongan sapi mencapai 5.000 ekor per tahun.
Namun populasi lokal yang menurun setelah wabah PMK membuat kemampuan pemotongan hanya sekitar 1.500 ekor per tahun.
“Kita tidak bisa memotong lebih banyak, karena populasi bisa turun drastis. Itu justru membahayakan regenerasi ternak,” ujarnya.
Kondisi ini, membuat Ketahanan Pasokan Daging (KPD) Kutim sangat bergantung pada kelancaran distribusi dari luar daerah.
Meski pasokan sejauh ini berjalan lancar, Dyah menegaskan bahwa risiko tetap ada. Gangguan cuaca laut, antrean kapal, hingga fluktuasi harga di daerah pemasok dapat langsung berdampak pada Kutim.
“Ketergantungan ini membuat kita rentan. Begitu harga naik di daerah asal, otomatis sampai ke sini ikut naik,” jelasnya.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, pemerintah menjalankan program peningkatan populasi melalui Inseminasi Buatan (IB) dan pengadaan sapi Bali setiap tahun.
Namun Dyah mengingatkan bahwa proses peningkatan populasi membutuhkan waktu panjang karena keterbatasan reproduksi ternak.
“Satu indukan hanya melahirkan satu pedet per tahun. Jadi kita tidak bisa berharap lonjakan cepat,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah kini fokus memperbaiki manajemen pemeliharaan, termasuk pakan, kesehatan, dan kandang peternak. Dyah optimistis langkah ini dapat memperkuat produksi lokal.
“Target jangka panjang tetap swasembada. Yang terpenting populasi perlahan meningkat dan ketergantungan pada luar daerah bisa berkurang,” tandasnya. (Adv-Diskominfo Kutim/Andika)






