Kutai Kartanegara — Car Free Day (CFD) di Tenggarong kini dimanfaatkan sebagai ajang memperkenalkan kembali olahraga tradisional kepada masyarakat. Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kutai Kartanegara melihat momentum keramaian mingguan ini sebagai peluang untuk menghidupkan permainan berbasis budaya yang mulai jarang ditemui di tengah aktivitas digital masyarakat.
Kepala Bidang Pembudayaan Olahraga Dispora Kukar, Aji Muhammad Ari Junaidi, mengatakan bahwa CFD memberikan akses yang luas untuk menyentuh berbagai kalangan usia. Dengan keterlibatan masyarakat yang tinggi, kegiatan edukasi budaya dapat dilakukan secara lebih efektif dan menarik.
“Kami menampilkan beragam permainan tradisional melalui ekshibisi di CFD. Banyak peserta, terutama anak muda, mencoba permainan yang sebelumnya mereka belum kenal,” ungkap Ari, Kamis (4/12/2025).
Ari menjelaskan bahwa dominasi teknologi dan penggunaan gawai di kalangan remaja membuat olahraga tradisional semakin terpinggirkan. Karena itu, dibutuhkan cara-cara kreatif untuk kembali menarik perhatian generasi muda.
“Permainan tradisional tetap memiliki daya tarik. Selain seru, permainan ini juga dapat menjadi wadah pembentukan karakter dan kebersamaan. Kami ingin remaja menyadari nilai itu,” tambahnya.
Dispora Kukar juga membuka ruang kolaborasi bagi sekolah, komunitas, dan kelompok pemuda untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan CFD. Mereka dapat terlibat sebagai penampil maupun penyelenggara ekshibisi, sehingga proses pelestarian budaya tidak hanya digerakkan pemerintah, tetapi juga masyarakat.
Program pemanfaatan CFD sebagai ajang pembudayaan olahraga tradisional akan terus berlanjut. Dengan hadir di ruang publik, permainan tradisional dapat dikenal, dipelajari, dan dihidupkan kembali oleh masyarakat secara lebih alami.
“Pelestarian budaya harus dilakukan secara terbuka. Melalui CFD, masyarakat bisa berinteraksi langsung, mencoba permainan, dan merasakan keseruannya,” tutup Ari.






