Erau Kutim Beri Panggung Musik Tingkilan Lokal

KUTIM, Rilismedia.co — Bunyi gambus dan irama khas Kutai bakal mendapat panggung khusus dalam kemeriahan Erau di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dinas Pariwisata (Dispar) Kutim berencana menghadirkan lomba musik tingkilan sebagai salah satu upaya mengangkat kelompok seni tradisional yang selama ini belum banyak terekspos.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kutim, Akhmad Rifani, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (14/9/2026), mengatakan lomba tersebut sengaja difokuskan pada musik tingkilan. Langkah itu diambil agar pelaksanaan Erau sekaligus menjadi ruang bagi kelompok-kelompok seni untuk memperkenalkan kemampuan mereka kepada masyarakat luas.

“Jadi kita coba angkat, karena mungkin ada grup-grup tingkilan di sini yang tidak terekspos dan tidak diberikan panggung untuk mereka tampil. Makanya kita memberikan kesempatan mereka untuk tampil,” ujar Rifani.

Menurutnya, peserta lomba tidak dibatasi hanya berasal dari satu wilayah tertentu. Kelompok yang ingin tampil dapat mengikuti kegiatan, namun materi perlombaan tetap difokuskan pada identitas musik tingkilan sebagai kesenian tradisional Kutai.

“Tingkilan tetap musik tradisional Kutai. Yang tampil dari mana pun silakan tampil, tetapi lomba kita fokuskan dulu lombanya yang musik tingkilannya. Kita ingin fokus ke situ,” katanya.

Karakter musik tingkilan yang kuat dengan penggunaan gambus tetap menjadi identitas utama. Namun Rifani menyebut kolaborasi dengan perangkat musik lain tidak menjadi persoalan sepanjang karakter utama musik tradisional tersebut tetap dipertahankan.

Lomba itu juga tidak semata-mata diarahkan untuk mencari pemenang. Dispar Kutim ingin menjadikannya sebagai proses pemetaan kelompok seni potensial yang nantinya dapat kembali dilibatkan dalam berbagai agenda pemerintah daerah.

“Kita ingin nanti yang lomba-lomba ini bisa kita tampilkan pada acara-acara berikutnya. Mungkin ada pilihan, para juara-juara ini kita mau nanti ikutkan,” jelas Rifani.

Konsep perlombaan juga menjadi salah satu jalan tengah di tengah keterbatasan anggaran. Kutai Timur memiliki wilayah sangat luas sehingga mendatangkan kelompok seni dari kecamatan-kecamatan yang berjauhan membutuhkan biaya tidak sedikit.

Rifani mencontohkan kelompok dari wilayah seperti Muara Bengkal, Muara Ancalong, Sangkulirang dan kecamatan lainnya membutuhkan dukungan anggaran perjalanan apabila harus secara khusus diundang untuk tampil.

“Kalau kita mengundang beberapa ini kan terkendala, pasti biaya. Misalkan dari Muara Bengkal, Muara Ancalong, Sangkulirang, ada beberapa yang lainnya. Kalau kita undang mereka ke sini, budgetnya pasti ada. Kita belum mampu, makanya kita mengadakan lomba saja dulu,” terangnya.

Selain musik tingkilan, Erau akan melibatkan berbagai cabang seni pertunjukan dan kegiatan ekonomi kreatif. Menurut Rifani, seni pertunjukan memiliki cakupan luas, mulai dari tari, musik hingga bentuk pertunjukan tradisional maupun modern.

Keterlibatan seniman tersebut menjadi penting karena mereka merupakan bagian dari ekosistem ekonomi kreatif Kutai Timur. Panggung Erau dengan demikian diharapkan tidak hanya menghadirkan hiburan kepada masyarakat, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan talenta lokal.

Melalui lomba tingkilan, Dispar Kutim berharap muncul kelompok-kelompok potensial yang dapat memperoleh kesempatan lebih luas. Erau pun menjadi momentum untuk menjaga denyut musik tradisional Kutai agar tetap terdengar sekaligus diwariskan kepada generasi berikutnya. (Dit/ADV/KUTIM)

Pos terkait